Balak Enam

Balak Enam

Kamis 21 May 2026 - 16:45 WIB
Reporter : Tim
Editor : Syahril Sahidir

(3) Yadri wa yadri annahu yadri (orang yang tahu dan ia tahu bahwa dirinya tahu. Orang jenis ini masuk kategori orang bijak (al-hukama). Inilah orang yang harus diikuti dan menjadi pelita kehidupan. Membagi cahaya peradaban dengan ilmu dan pengalamannya. Para professional yang memberi keteladanan dengan iman dan amal prestasi. (4) Laa yadri wa laa yadri annahu laa yadri (orang yang tidak tahu dan ia sendiri tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu). Inilah tipe manusia masuk dalam kategori “gegar intelektual”, kebodohan pangkat dua (jahil muraqab), manusia sok tahu, banga dengan dirinya sendiri (ujub) dan enggan untuk diberi tahu karena merasa lebih tahu.

Nah, masuk dalam golongan manakah diri kita? 

****

AYAT Al-Qur’an pertama kali turun berbunyi “Iqra’”. Menurut pemahaman saya yang masih sangat minimalis soal agama, pasti ada pelajaran besar mengapa Allah SWT menurunkan ayat pertama yang berbunyi “Iqra’” yang berarti “Bacalah!”. 

Menurut saya, kalimat Iqra’ (Bacalah!) adalah penunjukkan jalan pertama bagi manusia untuk menjadi manusia mencapai kesuksesan dunia akhirat. Dari pemahaman kecil tentang Iqra’ ini, seringkali saya sampaikan saat “dipaksa” memberikan motivasi di sekolah-sekolah maupun di kampus bahwa setidaknya ada 3 hal yang harus dibaca dalam hidup ini untuk memulai hidup. (1) Baca Diri (2) Baca Lingkungan (3) Baca Kitab/Buku.

Jika ketiga hal ini tidak mampu kita baca, maka dipastikan kita menjadi makhluk Tuhan yang tidak tahu diri dan akan berbuat sekehendak diri sesuai dengan arahan nafsu atau ambisi.

Nah, di era sekarang ini ternyata banyak kita temui orang-orang yang sudah kian tidak tahu diri dan berbuat sekehendak diri. Kaya raya namun tidak pernah peduli dari mana harta ia dapatkan dan kemana ia salurkan. Ketika membeli kekuasaan, ia duduk dalam kekuasaan itu dengan kebanggaan yang pongah sehingga banyak yang menjadi korban kekuasaan yang ia duduki. Dilain sisi, keangkuhan, keras kepala, tidak tahu aturan, merasa benar dan merasa dizholimi lalu dipermasalahkan hukum dan dipenjara, lantas playing victim seakan diri adalah korban. Itulah romantika manusia di era canggihnya teknologi.

Kita sering lupa, bahwa apa yang kita raih sesungguhnya tidak lepas dari campur tangan Tuhan, campur tangan orang lain dan do’a orang-orang yang mencintai kita bahkan orang-orang yang tak pernah kita kenal sekalipun, dibalik kekuasaan dan kekayaan yang kita raih. Sehingga diberi kesempatan berkuasa dan dititipi kekayaan yang kita anggap melimpah, tak perlu ada rasa kesombongan yang membuat orang lain mengusap dada apalagi membuat Sang Penguasa Alam murka dengan memberikan “balak enam” (bencana) kepada kita. 

Tapi begitulah, sejak zaman dulu kala dalam sejarah adanya manusia, selalu ada yang “gila” tak tahu diri. Selalu ada pelaku mengaku korban, dan korban dituduh menjadi pelaku. Tidak tahu aturan merasa dizholimi, tidak bisa membedakan mana kebenaran dan mana pembenaran.

Nah, bicara soal gila, menurut orangtua dulu, gila itu ada 44 macam, dan pasti ada dalam setiap diri manusia, apalagi manusia modern saat ini. Misalnya: gila harta, gila jabatan, gila hormat, gila mentinak (wanita), gila natak (jalan-jalan), gila kerja, gila batu akik, gila belanja, gila makan, gila judi, gila minum (mabuk), setengah gila, gila-gilaan hingga gila benaran. Nah, yang terakhir itu biar saya aja yang ngaku! 

Boh, sial e, mati balak enam pulik! (menyelesaikan tulisan ini sambil main gaple di pondok kebun tepi sungai)

    Salam Balak Enam!(*)

    

    

    

 

Kategori :

Terkait

Kamis 28 May 2026 - 17:16 WIB

Qurban dan Korban Politik

Kamis 21 May 2026 - 16:45 WIB

Balak Enam

Kamis 14 May 2026 - 16:57 WIB

Perangai

Kamis 07 May 2026 - 15:52 WIB

Penidir

Kamis 23 Apr 2026 - 16:13 WIB

Pemimpin & Filosofi Rembiak