Politik Mak-Mak Bermotor Matic
Ahmadi Sopyan-screnshot-
Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya
MAK-Mak bermotor matic dijalanan telah mengajari kita tentang pendidikan politik tingkat dasar. Sign (sein) kiri belok kanan, sein kanan gak belok-belok.
---------------
BICARA soal politik kekuasaan memang tak ada habisnya, selalu menarik karena banyak yang tertarik, menggelitik karena ada yang licik, lucu yang berujung menggerutu, sedih berujung perih, bahkan tak sedikit yang tak bisa menerima kenyataan.
Politik itu adalah siasat, strategi, tak tik, permainan, kompetisi, sehingga pasti ada yang menang ada yang kalah. Jadi kalau belum siap disiasati, distrategiin, di tak tik tok, dipermainkan, dikompetisikan, ya nggak usah masuk politik. Orang baik belum tentu baik ketika berada dalam kancah perpolitikan, tergantung bagaimana mental, intelektual dan spiritual.
Bukankah ikan di lautan ratusan bahkan ribuan tahun didalamnya tidak menjadi asin sebagaimana air laut? Ini karena ikan dalam keadaan hidup. Artinya, orang yang berpolitik haruslah hidup dan tanda orang yang hidup adalah dinamis, luwes, siap menerima keadaan dalam berbagai macam cuaca dan suasana. Begitupula dalam kancah politik kekuasaan saat ini.
Orang baik, beriman, jujur, pintar, cerdas, tegas haruslah berpolitik. Karena jika tidak, maka kekuasaan akan diduduki oleh orang bermental tidak baik, tanpa iman, kurang jujur, bodoh serta gampang diombang ambing berbagai kepentingan. Rusaknya sebuah tatanan kebangsaan kita saat ini salah satu penyebabnya adalah berkuasanya orang yang bodoh dan diamnya orang yang baik . Sangat banyak sekali orang baik, orang hebat, orang pintar, orang beriman dan orang jujur di negeri ini, namun sayangnya mereka seringkali alergi dengan politik. Padahal dari politik-lah semua diatur di dalam dan di luar negeri ini.
Oleh karenanya, kita seringkali menjadi masyarakat yang tersisihkan dalam kewenangan mengatur berbagai kepentingan umat. Ini bukan salah siapa-siapa, tapi ini adalah salah kita sendiri. Ibarat kata orangtua Pulau Bangka zaman dulu, bukan salah Pak Sopir, tapi Dakocan kurang minggir . Artinya, kalau kita hari ini diserempet, ditabrak, disemprot, jangan-jangan karena salah kita sendiri akibat kita terlena dan hanya bisa melakukan sumpah serapah.
Akhirnya, hari ini kita bagaikan raksasa tanpa tulang, sehingga loyo, letoy, lemah, lunglai, karena hanya memiliki daging yang besar, tanpa tulang sebagai penopang. Kebanyakan umat kita ini hanya bisa berteriak keras, tanpa mau terjun bersama-sama dalam kancah kekuasaan. Padahal untuk mengatur segala kemaslahatan umat adalah dengan kekuasaan dan memperoleh kekuasaan itu haruslah dengan politik. Oleh karenanya, kedepan saya memiliki ide nyeleneh yakni harus ada Pondok Pesantren atau sekolah agama (agama apapun) yang fokus pada mendidik manusia-manusia Indonesia untuk terjun ke dalam politik dan pendidikan politik yang memadai, memahami Pancasila dan Bhenika Tunggal Ika yang sesungguhnya, memahami UUD 1945, memahami sejarah, mampu menganalisa, mengatur strategi dan sebagainya yang tetap dalam ikatan iman dan spiritual yang kokoh.
Atau juga para alumni Pesantren diarahkan untuk melanjutkan pendidikan politik di berbagai universitas. Hal ini menjadi penting, agar kedepannya orang-orang yang beriman, jujur dan memiliki nilai-nilai agama tidak menjadi politikus dadakan dan bermental kagetan.
Politikus Kagetan
POLITIK itu dinamis, semua bisa terjadi dan bisa terjadi untuk semua. Jangankan yang langsung terjun ke dunia politik kekuasaan, yang tidak terjun pun bisa terkena imbas. Kerapkali sudah, kita saksikan berbagai fenomena politik terjadi didepan lobang hidung kita masing-masing, misalnya saat kompetisi Pemilihan Kepala Daerah. Permainan strategi sedemikian rupa. Ada yang koar-koar hingga fhotonya menjulang angkasa, padahal Pilkada masih sangat lama. Ada yang balihonya sering bikin kaget pengendara di jalanan, ada yang beroperasi senyap, tiba-tiba namanya muncul, ada yang sibuk bertandang tebar kedekatan padahal selama ini tidak pernah berbuat apapun, ada yang yang sibuk wira-wiri telpon sana-sini, ada yang yang sibuk lobi atas lobi bawah, ada yang harap-harap cemas sambil terus menawarkan diri walau harus tergadaikan harga diri, ada yang sibuk sendiri alias gile sendiri pasang baliho sana sini tanpa kejelasan strategi dan sebagainya. Bahkan ada juga yang berperilaku seperti pejabat beneran, ibarat kata orangtuatua dulu: Belum beranak sudah ditimang . Itu selalu terjadi dan sudah sering terjadi di berbagai daerah, termasuk di Kepulauan Bangka Belitung.
Bagi orang yang memahami peta perpolitikan, hal seperti ini mah sudah biasa banget. Yang digadang-gadang si A, yang ditetapkan si E, itulah politik. Yang sosialisasi S yang jadi si H, itulah politik. Yang habis-habisan kampanye si C yang terpilih si F, itulah politik. Ibarat kata, ayam punya telor, sapi punya nama. Sapi punya susu, beruang punya nama. Jadi, kalau ada yang sudah tebar pesona kesana kemari, lantas tiba-tiba tidak dapat nyalon, itu mah sudah biasa. Ada pula yang tidak gembar-gembor pasang baliho, tidak ada spanduk, tidak ada koar-koar di media, tidak tebar pesona, tapi tiba-tiba dapat SK Partai dan daftar ke KPU sebagai calon.