Lemah Bilong
Ahmadi Sopyan-screnshot-
Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya
PEMIMPIN yang “lemah bilong” umumnya akan gampang “dicucok lulong”
alias muncul para penjilat-penjilat disekitarnya.
------------
MENJADI pemimpin untuk orang banyak bukanlah perkara gampang, tidak bisa dikatakan mudah. Jangankan memimpin rakyat yang jumlah pastinya tak terhitung, memimpin sebuah keluarga saja membutuhkan ilmu, strategi, kekuatan spiritual dan intelektual, kesabaran, serta kesehatan yang prima dan keluwesan mengatur irama.
Menjadi pemimpin itu memiliki tantangan yang luar biasa. Oleh karenanya begitu banyak orang “ngotot” dan ambisi untuk berkompetisi menjadi pemimpin. Ada yang memang pantas, ada yang memantaskan diri dan ada pula “dak ngukur bajuk di badan”, yang penting jadi atau tak apalah jadi-jadian alias dijadikan walau harus menjadi boneka.
Pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain. Ada 2 pemimpin ditengah kehidupan masyarakat kita, yakni pemimpin struktural dan pemimpin non struktural. Pemimpin struktural adalah pemimpin yang memiliki jabatan di pemerintahan, seperti Presiden hingga Ketua RT. Sedangkan pemimpin non struktural adalah orang yang ditokoh di lingkungannya, bisa tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat maupun tokoh preman.
Setidaknya ada 8 kelemahan pemimpin dan satu di antara 8 itu adalah yang menjadi catatan ringan (Taring) ini, yakni “lemah bilong” alias “telinga lembek”. Maksud dari tutur lisan orang Bangka (Lemah Bilong) ini adalah tipikal orang yang terlalu gampang mendengar bisikan orang lain yang belum jelas kebenarannya. Kalau di era maraknya media sosial, “lemah bilong” bisa dikategorikan dengan orang yang gampang percaya dan menyebarkan berita hoax.
Seorang pemimpin ditengah masyarakat adalah panutan semua kalangan. Ia milik semua orang bukan milik orang-orang tertentu apalagi hanya orang-orang yang pernah membantu. Seorang pemimpin berdiri di tengah untuk mengayomi dan menjadi ratu adil bagi semua pihak bukan harus memihak. Disinilah pentingnya seorang pemimpin untuk mendengar semua suara, baik suara pujian, cacian, sumbang bahkan hingga yang tak bersuara. Setelah itu ia baru memutuskan apa dan bagaimana bertindak yang tepat.
Untuk tidak menjadi pemimpin kategori “lemah bilong”, harus hindari pujian yang berlebihan karena itu akan menumbuhkan embrio “penucok lulong” alias penjilat. Dekatkan diri pada orang-orang yang kontra, ajak bicara, ajak diskusi, ajak ngobrol, ajak bercanda dan sebagainya. Pemimpin adalah orang kuat yang pastinya bisa melemahkan kekuatan lawan dengan cara yang elegan.
Pemimpin yang “lemah bilong” akan memiliki mudhorat besar bagi orang yang dipimpinnya. Begitu gampang menganiaya, menzholimi bahkan tak peduli yang dizholimi adalah ulama sekalipun. Pemimpin yang “lemah bilong” adalah pemimpin yang tak memiliki daya intelektual yang mumpuni untuk menjadi seorang pemimpin. Tipikal pemimpin “lemah bilong” akan mudah dirasuki dan dibisiki oleh orang-orang yang memiliki kepentingan sesaat tanpa ia sadari karena kebodohannya. Apalagi yang membisiki dan yang memiliki kepentingan adalah para pemodal besar.
Rakyat Kala Memilih Pemimpin