Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Qurban dan Korban Politik

Ahmadi Sopyan-screnshot-

Oleh: AHMADI SOFYAN

Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya

 

SELAMAT datang Idul Qurban. Semoga barokah bagi yang sudah ber-qurban, baik sapi, kambing atau pun perasaan karena sering diberi janji-janji palsu.

------------

PERAYAAN Idul Adha tahun ini tetap semarak walau ditengah suasana peerekonomian yang karut marut. Dollar kian menanjak sedangkan Rupiah semakin lemah lunglai tak berdaya tak berharga. Dalam kondisi perekonomian masyarakat kita karut marut dengan berbagai faktor. Walau begitu kita bersyukur, insya Allah masih ada daging qurban yang akan dibagikan kepada masyarakat menengah ke bawah.

Idul Adha atau Hari Raya Qurban adalah moment dimana kita belajar tentang perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, yang bersumber dari keyakinan. Dari perayaan Idul Adha ini kita umat Muslim setiap tahun diberi kesempatan mulia untuk memaknai akan indahnya pengorbanan dan keikhlasan sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Idul Adha 1447 H/2026 M insya Allah lebih bermakna ditengah kondisi politik dan ekonomi yang kian mengkhawatirkan, yang pastinya jauh dari apa yang pernah dijanjikan pemimpinnya. Tentunya berqurban semakin mengokohkan nilai cinta, perjuangan, pengorbanan dan keikhlasan yang bermuara pada keyakinan dan kecintaan. Pun berqurban bukan sekedar membeli, menyembelih dan membagikan daging Sapi dan Kambing, tapi harus disadari bahwa semua harus dengan keyakinan bukan sekedar karena ada keinginan atau pencitraan. 

Hewan Qurban dan Korban Politik

SEBETULNYA politik, menurut Aristotelees, merupakan medan mulia untuk mencapai kesejahteraan bersama. Politik bisa membuat masyarakat menikmati kebahagiaan yang dicita-citakan. Sebagaimana Qurban di hari raya Idul Adha, di dalam politik tersimpan keikhlasan luar biasa dan pengorbanan diri untuk kebaikan bersama. Para pejuang politik seharusnya tak pernah meminta pamrih atas kinerjanya. Tak butuh pujian dan tepuk tangan menggema, tak butuh dianggap hebat dan wah, sebagaimana kita ber-qurban di hari raya Idul Adha, tak membutuhkan itu semua, kecuali diterimanya qurban kita oleh Allah SWT. 

Sayangnya, konsep mulia dari politik sudah kian memudar akibat ambisi yang berlebihan, fasilitas duniawi yang jadi tuntutan dan kepentingan yang sudah keluar dari cita-cita mulia. Korupsi, berkelahi, saling fitnah, saling caci maki, saling menghujat, saling memanfaatkan, menyalahgunakan wewenang, saling menjatuhkan, saling mengumpan, saling memancing, saling menebar janji-janji, saling sikut dan saling sikat, saling gosok, gasak dan gesek adalah fenomena berpolitik yang kita saksikan hari ini, terutama di media sosial dan juga televisi. Tentunya ini jauh dari kata mendidik bagi generasi muda bangsa Indonesia yang dulu dikenal sebagai masyarakat ramah dan penuh nilai-nilai budaya. 

Dari semua fenomena politik tersebut, yang menjadi korban terbesar adalah rakyat. beberapa tahun terakhir ini, kita rakyat Indonesia sebetulnya sudah terbiasa dengan tebaran janji-janji para kandidat, dari mulai Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota hingga Kades. Hampir semua orang yang mencalonkan diri menjadi pemimpin, pernah mengumbar janji pada pemilih. Baik dari calon Kades hingga calon Presiden. Mereka berani berjanji sekaligus memiliki keberanian untuk mengingkarinya. Persis seperti yang pernah diungkapkan oleh Shakespaere: 

--Dia menulis ungkapan berani, bicara dengan kata-kata berani, berusmpah dengan sumpah berani dan melanggarnya dengan berani--.

Pertanyaannya adalah: 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan