Sang bapak akhirnya pergi dengan meninggalkan kalimat ancaman. Sang bapak sudah merasa prustasi menghadapi anak sulungnya yang diam seribu bahasa ketika ditanya. Sang ibu mengelus kepala Seraul dengan lembut. Belaian itu mewakili kelembutan hati sang ibu. Ini juga membuktikan sebenci apa pun seorang ibu terhadap anaknya masih tetap memiliki kasih sayang dalam hatinya.
Sang ibu beranjak mengikuti sang ayah, tidak lupa ia menggendong anak kedua yang masih asyik bercengkerama dengan mobil palsunya. Seraul masih saja diam menatap kepergian kedua orang tua dan adiknya menuju dapur. Kalimat terakhir dari sang bapak masih saja terngiang di telinganya. Ia menjadi galau, di satu sisi ia masih ingin mengunjungi lelaki di gubuk reot yang memiliki gelar pengiyok itu, namun di satu sisi ia takut dengan ancaman sang bapak.
***
Sore itu si pengiyok sedang khusuk dengan sebuah benda di tangannya. Selembar foto usang dipegangnya sangat erat. Ada tiga sosok yang terpampang di foto itu. Dua orang pasangan laki-laki dan perempuan dan seorang anak kecil yang berumur sekitar dua tahun.
Senyum laki-laki dalam foto itu sangat khas, dengan setelan kaos da celana jeans semakin membuat laki-laki di foto itu sangat menawan. Perempuan dalam foto itu juga tidak kalah, rambut yang disanggul dan pakaian kabaya lengkap membuatnya sangat cantik dan menawan. Sementara anak kecil tampak bahagia, dengan kulit putihnya sang anak sangat tampan. Ketampanannya kemungkinan karena gen kedua orang tuanya.
Sore itu ia menanti kedatangan orang yang selalu setia menemaninya menghabiskan waktu asar sampai magrib dengan cerita-cerita receh. Namun sampai waktu menjelang magrib orang yang ditunggu-tunggu tidak juga menampakkan batang hidungnya. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa yang menyebabkan tamu rutinnya itu tidak datang. Apakah ia sakit?
Apakah ia sudah bosan menemui orang yang dibenci seperti dirinya? Apakah mungkin orang itu mulai melupakannya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja menyerangnya, bagaikan rudal Iran yang meluncur ke Amerika Serikat. Namun pertanyaan-pertanyaan itu tidak kunjung ada jawabannya.
Akhirnya ia pasrah bahwa hari itu tidak ada lagi teman yang bisa berbagi cerita dengannya. Ia pasrah mungkin ke depannya ia akan menghabiskan waktu sebatang kara lagi. Bahkan ia harus rela jika nanti ia menghembuskan nafas terakhirnya seorang diri tanpa diketahui orang, bahkan mungkin nanti jasadnya tidak akan ditemukan orang karena habis dimakan pengurai di gubuk reotnya itu.