Bahkan karena keakraban mereka warga desa sampai menyamakan Seraul dengan lelaki seperti satu komplotan dan warga desa pun tidak segan-segan memberikan gelar pengiyok juga pada Seraul. Keluarga Seraul pun sudah dibuat malu oleh tingkah Seraul tersebut.
***
“Kami heran dengan sikapmu,” katanya.
Pagi itu Seraul sedang duduk di teras rumahnya. Ia diapit oleh kedua orang tuanya. Di sisi kirinya ada adik perempuannya yang masih kecil duduk sambil memainkan mobil-mobilan yang terbuat dari pelepah pisang.
Pagi itu Seraul serasa sedang dalam ruang pengadilan. Teras rumahnya seakan berubah menjadi ruang persidangan yang sering disebut orang meja hijau itu. Ia sendiri merasa seperti seorang tersangka yang disidang tanpa tahu apa dosanya.
Kedua orang tuanya seperti jaksa penuntut yang siap mengeluarkan segala dalilnya untuk memojokkan. Yang berbeda hanya tidak ada pemimpin sidang dan pengacara untuknya. Mengharapkan adiknya menjadi pengacara baginya sungguh jauh api dari panggang. Jangankan untuk membelanya, untuk buang air kecil saja sang adik harus dibantu.
Jadi apa yang bisa diharapkan dari sang adik yang tidak berdaya. Atau misal adiknya juga sudah besar tetap mustahil bisa membelanya, karena yang dihadapi sekarang adalah kedua orang tuanya yang notabene adalah penguasa saat itu.
“Coba jelaskan alasanmu selalu mengunjungi pengiyok itu.”