Sang Bapak bertanya dengan menyebutkan gelar yang disematkan kepada lelaki itu. Sang ibu mengangguk bertanda ia setuju dengan pertanyaan sang bapak. Seraul masih diam sambil tertunduk. Ia tidak berani menatap wajah kedua orang tuanya. Sang adik masih asyik dengan mobil imitasinya.
“Jawab Asraul Manan,” tandasnya.
Kali ini sang bapak menaikkan volume suaranya dan menyebut nama asli anaknya. Seraul paham betul jika sang bapak sudah menyebut nama aslinya berate sang bapak memang sudah hampir habis kesabarannya. Sang ibu tampak mengelus pundak sang ayah.
Seraul masih belum bergeming. Jangankan menjawab pertanyaan sang bapak bahkan menaikkan wajahnya pun ia tidak kuasa. Sang adik tampak sedikit terkejut, namun hanya sebentar seperti ingin mengetahui saja apa yang sedang terjadi dan berpura-pura simpati, tapi kemudian kembali tidak perduli dengan situasi, dan kembali asyik dengan aktivitasnya.
“Kamu tahu tidak, keluarganya dulu adalah pembohong semua, suka menipu.”
“Sudah banyak warga yang ditipu keluarganya dan banyak juga warga yang dirugikan karena kebohongan keluarganya”
Sang bapak kali ini terus meracaw dengan derasnya bagai banjir di sebuah kota yang tidak bisa dibendung.
“Awas, kalau kamu masih ke sana lagi, Bapak akan menghukummu!”