“Demi Allah saya bukan pembunuh”
Terdengar samar-samar ucapan pembelaan dari dalam kerumunan. Namun warga yang sudah tersulut emosi tidak memdulikannya.
“Sasar pengiyok! Ayo hajar terus jangan pedulikan!” Tiba-tiba warga menghentikan pukulan-pukulan mereka.
“Cukup, Ia sudah tidak bergerak lagi.”
Seorang warga mengomandoi untuk berhenti. Sesaat kemudian terlihat dua sosok manusia tergelatak tidak bernafas lagi.
Satu memang sudah meninggal karena tusukan benda tajam, satu lagi tewas karena dikeroyok. Si pengiyok yang saat itu masih sangat kecil sangat terpukul melihat sang bapak meninggal secara tragis dikeroyok oleh massa. Pepatah menolong anjing terjepit tampaknya sedang berlaku terhadap bapaknya. Niatnya tadi ingin menolong wanita yang menjadi korban, ternyata malah terkena fitnah.
Pasca kejadian itu si pengiyok yang sekarang tinggal sendirian itu mengalami depresi yang luar biasa, apalagi seminggu setelah itu sang ibu menyusul sang ayah menghadap pencipta. Peristiwa itu sungguh sangat membuatnya merasa tidak ingin hidup lagi. Semenjak itulah ia mengasingkan diri di gubuk reot. Ia tidak pernah lagi merawat penampilannya. Yang pasti dalam hatinya ia yakin bahwa bapaknya bukanlah seorang pengiyok seperti yang dilabelkan warga. ia tahu persis bapaknya orang jujur dan ikhlas dalam setiap aktivitasnya.
“Sumarlin… Sumarlin.”
Malam itu sayup-sayup si pengiyok mendengar suara yang memanggil nama aslinya. Ia tahu hanya satu orang yang tahu nama aslinya, tapi apakah benar itu dia. Tapi kenapa ia datang malam-malam seperti ini.
“Sumarlin buka pintunya.” Suara semakin jelas di telinganya, dan ia yakin betul jika itu sahabatnya yang selama ini sudah tidak datang, tapi kenapa ia datang malam-malam.