Setelah pintu dibuka, tampak wajah Seraul dengan kecemasan yang sangat besar. Seraul langsung masuk dan memberikan isyarat untuk segera menutup pintu.
“Aku ada informasi yang akurat terkait kasus orang tuamu,” tukas Seraul. “Aku sudah tahu siapa yang memfitnah orang tuamu,” lanjutnya.
Si Pengiyok tampak datar saja menanggapinya. Hal itu membuat Seraul menjadi heran.
“Kenapa kamu seperti ini? Apakah kamu tidak ingin mengetahui siapa yang memfitnah orang tuamu?”
“Biarlah itu menjadi kisah lama, tidak usah kamu ungkit-ungkit lagi,” kata Pengiyok pelan. “Lebih baik sekarang kamu pulang.”
Lelaki itu mengusir sahabatnya karibnya dan membuat Seraul semakin heran. Namun Seraul tahu jika sahabatnya itu memang sedang tidak ingin diganggu, maka dengan sedikit rasa berat ia pun pergi meninggalkan gubuk sahabtnya itu.
Selepas kepergian sahabatnya, si pengiyok mengambil sebuah foto dari dalam tumpukan baju lusuh, terlihat di situ foto sepasang pengantin sedang tersenyum. Dan ternyata foto itu adalah foto orang tua Seraul. Di baliknya foto itu sehingga terpampang sebuah tulisan besar “Kalian sudah memfitnah orang tuaku, kalian sudah membunuh orang tuaku”. Setelah membaca itu tampak tangannya mengepal seperti menyimpan dendam yang sangat membara.
“Kalau tidak karena persahabatanku dengan anakmu, sudah lama aku akan balas dendam,” gumamnya dalam hati.
***