Oleh : AHMADI SOFYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya
PERANGI “PERANGAI” kita yang jauh dari adab berbangsa dan bernegara, yang jauh dari sisi kemanusiaan, yang jauh dari keadilan, yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan yang hanya berpikir untung rugi dan pencitraan duniawi.
-------------------
ORANG bijak pernah mengkategorikan 4 jenis manusia.
(1) Ada orang yang tahu dirinya tahu bahwa ia tahu, orang seperti ini diikuti.
(2) Ada orang yang tahu tapi dirinya tak tahu bahwa ia tahu, orang seperti ini diingatkan.
(3) Ada orang yang tidak tahu, tapi dirinya tahu bahwa ia tidak tahu, orang seperti ini diajarkan.
(4) Ada orang yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu, orang seperti ini dijauhkan.
Keempat jenis manusia ini, sejak zaman Nabi Adam mulai memiliki anak-anak (keturunan) hingga kiamat nanti akan terus ada ditengah-tengah kehidupan sosial kita. terlebih lagi jenis manusia ke-4 yang akan semakin berkembang di era modern seperti sekarang ini. Inilah yang disebut kesadaran atau ketidaksadaran.
Salah satu rezeki terbesar manusia adalah kesadaran. Maka salah satu kerugiaan terbesar manusia adalah ketidaksadaran. Maka bedakanlah keberuntungan antara manusia yang sadar dan tidak sadar itu. Mulai dari soal-soal sederhana. Misalnya seseorang yang tidak sadar kalau dirinya menjengkelkan. Sumber kejengkelan itu sederhana mulai cara duduk, cara meludah, cara bicara sampai apakah ada bau asam di ketiaknya. Tak ada yang salah dengan ketiak bermasalah. Yang berbahaya adalah ketika ia tak menyadari dan ia malah biasa memeluk dengan gembira siapa saja yang ditemui.
Ternyata, cukup dengan tidak sadar pada soal ketiaknya saja nasib seseorang bisa terantuk halang-rintang tanpa kesudahan. Pasangan hidupnya akan menderita, teman-temannya akan berguguran, orang lain akan malas melakukan penawaran. Kesana ditolak kemari disambut dingin. Pekerjaan akan sepi dan tawaran yang datang hanya pekerjaan kasar. Tawaran itu akan membuatnya marah lalu ia mulai menyalahkan keadaan. Ia merasa betapa malang nasibnya dan betapa kejam orang-orang di sekitarnya. Hanya soal ketidaksadarannya pada soal ketiak nasib manusia bisa menuai banyak drama. Apalagi jika seseorang harus tak sadar pada norma, moral dan hukum. Maka dipastikan kemalangan demi kemalangan akan menipa dirinya bahkan keluarga.
Lalu, bandingkan dengan pihak yang sadar. Cukup dengan sadar pada soal ketiak bermasalahnya. Kesadaran itu akan membuatnya tahu diri. Karena sikap ini pihak lain lalu berempati dan akhirnya menawarkan berbagai solusi. Karena ia orang tipe sadar ia juga sadar caranya berterimakasih dan menempatkan diri. Orang-orang lalu terkesan lagi dan menambahlan jumlah empati dan penawaran dan akhirnya terbukalah aneka kemungkinan. Akhirnya dari kesdaran sederhana itu, sadarlah ia pada banyak kesadaran yang lebih tinggi dan jadilah ia pribadi yang terbang tinggi.
Begitupula dengan seorang pemimpin. Jika ia sadar ketidakmampuannya belum maksimal, maka yang ia lakukan adalah merangkul bukan memukul, mengajak bukan mengejek, menggunakan argument bukan sentiment. Pemimpin yang tidak maksimal kepemimpinannya hanya akan berpikir bagaimana memoles sambil teriak “antek asing”, bagaimana meraih posisi lebih dan bagaimana mendapat pujian bukan masukan. Pemimpin yang kapasitas kepemimpinannya tidak maksimal ia akan bersikap “setengah munafik” atau bahkan “munafik maksimal”, hanya berbicara untung rugi bukan baik buruk. Berapa banyak kita melihat Kepala Daerah yang tidak lepas dari kesadaran dan ketidaksadaran ini. Pemimpin yang sadar bisa dimulai dari bagaimana mendidik isterinya agar tidak terlalu ikut campur tetek bengek pemerintahan, apalagi sampai harus setor sana setor sini, apalagi ikut meminta pecat sana angkat sini.
Begitu juga dengan negara. Ada negara sadar ada negara tak sadar. Ada negara yang tak sadar dan menyangka keadaan baik-baik saja sampai tak menyadari bahwa semua kelancaran itu bertumpu di atas hutang. Dengan hutang itu pula semua menyangka negara sedang bertumbuh dan makan gratis padahal dari APBN. Selain itu, kesalahpamahan pola pikir termasuk dalam memandang aparat hukum dan penegak hukum dalam kehidupan sosial masyarakat kita akan melahirkan gejolak berkepanjangan. Kita berharap tidak ada gejolak yang tak pernah usai, tapi selalu saja “dibuat” hingga membuat keadaan, kenyamanan, ketenteraman dan kedamaian kita sesama anak negeri semakin menipis. Harusnya…, aparat negara atau pejabat negara menjadi peredam bukan penyulut, pendamai bukan malah bikin semakin ramai. Inilah yang sering saya katakan, budaya dan nilai-nilai kearifan lokal harus digalakkan dan dikedepannya ditengah masyarakat kita agar kebhennikaan dan keharmonisan negeri kembali. Keadilan harus benar-benar ditegakan bukan karena politik apalagi balas dendam, bukan karena uang apalagi like and dislike pada seseorang.