Pendidikan Bahasa dalam Kurikulum Berdampak

Pendidikan Bahasa dalam Kurikulum Berdampak

Selasa 20 Jan 2026 - 20:26 WIB
Oleh: Admin

 

Pendidikan bahasa juga harus peka terhadap isu keadilan sosial. Bahasa dapat menjadi alat inklusi, tetapi juga eksklusi. Peserta didik dari latar belakang tertentu sering terpinggirkan oleh standar bahasa yang dominan. Kurikulum berdampak harus menghindari reproduksi ketimpangan sosial. Pendidikan bahasa perlu memberi ruang bagi ragam ekspresi. Bahasa tidak boleh menjadi alat penindasan simbolik.

 

Dalam konteks pendidikan Islam dan pesantren, bahasa memiliki dimensi spiritual yang kuat. Bahasa digunakan untuk memahami teks suci dan tradisi keilmuan. Pendidikan bahasa tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga transformatif. Al-Ghazali menekankan bahwa ilmu sejati mengantarkan pada kesadaran diri dan Tuhan. Kurikulum berdampak harus mampu mengakomodasi dimensi spiritual bahasa. Pendidikan bahasa yang hampa nilai akan kehilangan arah. Bahasa menjadi jalan pembentukan akhlak.

 

//Integrasi Teknologi

Tantangan lain adalah integrasi teknologi dalam pendidikan bahasa. Kecerdasan buatan mampu menghasilkan teks dengan cepat dan rapi. Namun, tanpa kesadaran kritis, teknologi justru melemahkan nalar. Neil Postman (1993) mengingatkan bahwa teknologi tidak pernah netral. Kurikulum berdampak harus memosisikan teknologi sebagai alat bantu. Pendidikan bahasa harus mengajarkan etika berbahasa digital. Bagaimanapun, bahasa di ruang digital memerlukan tanggung jawab moral.

 

Bahasa memiliki peran penting dalam membangun demokrasi. Diskursus publik yang sehat membutuhkan warga yang mampu berargumentasi rasional. Dalam konteks ini, pendidikan bahasa bertanggung jawab menyiapkan warga demokratis. Kurikulum berdampak tidak boleh mengabaikan fungsi ini. Pendidikan bahasa harus melatih keberanian berpikir dan berbicara. Demokrasi hidup melalui bahasa.

 

Evaluasi dalam pendidikan bahasa perlu dikritisi secara mendalam. Penilaian yang terlalu formal sering mengabaikan proses belajar. Akibatnya, peserta didik belajar demi nilai, bukan makna. Jerome Bruner menekankan pentingnya penilaian formatif. Kurikulum berdampak harus mengembangkan evaluasi yang manusiawi. Pendidikan bahasa harus menghargai proses berpikir. Evaluasi seharusnya mendukung pembelajaran.

 

Pendidikan bahasa harus kontekstual dengan realitas sosial peserta didik. Teks dan materi perlu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tanpa konteks, bahasa menjadi asing dan kering. Kurikulum berdampak harus mendorong pembelajaran dialogis. Pendidikan bahasa berangkat dari pengalaman hidup. Bahasa tumbuh dalam relasi sosial. Dalam kerangka pembangunan nasional, pendidikan bahasa sering dipandang sebagai sarana peningkatan sumber daya manusia. Perspektif ini sah, tetapi tidak boleh sempit. Pendidikan bahasa harus memperluas kebebasan berpikir dan berekspresi. Kurikulum berdampak perlu memperluas makna dampak itu sendiri. Pendidikan bahasa harus memanusiakan manusia.

 

Pendidikan bahasa dalam kurikulum berdampak harus ditempatkan sebagai jantung pendidikan. Bahasa membentuk cara berpikir, merasa, dan bertindak. Jika dikelola secara dangkal, dampak kurikulum menjadi semu. Kurikulum berdampak sejati mengubah cara manusia memaknai dunia. Pendidikan bahasa memiliki peran strategis dalam perubahan ini. Bahasa adalah fondasi kesadaran. Tanpa bahasa yang bermakna, pendidikan kehilangan arah.

 

Tags :
Kategori :

Terkait