Pendidikan Bahasa dalam Kurikulum Berdampak

Pendidikan Bahasa dalam Kurikulum Berdampak

Selasa 20 Jan 2026 - 20:26 WIB
Oleh: Admin

 

Kondisi mutakhir menunjukkan bahwa generasi muda hidup di tengah banjir informasi digital. Media sosial, kecerdasan buatan, dan algoritma telah membentuk cara berbahasa dan berpikir peserta didik. Bahasa menjadi serba cepat, ringkas, dan sering kali kehilangan kedalaman makna. Dalam situasi ini, pendidikan bahasa memiliki tanggung jawab besar untuk mengembalikan daya reflektif bahasa. Bahasa menjadi sarana empati dan nalar publik. Kurikulum berdampak tidak boleh sekadar mengikuti arus digitalisasi tanpa kritik.

 

Salah satu persoalan mendasar pendidikan bahasa adalah kecenderungan instrumentalisasi. Bahasa diajarkan demi nilai ujian, asesmen nasional, atau indikator statistik lainnya. Akibatnya, proses pembelajaran kehilangan makna personal dan sosial. Ivan Illich mengkritik sistem pendidikan yang menjadikan belajar sebagai komoditas. Dalam konteks kurikulum berdampak, kritik ini menjadi sangat relevan. Jika dampak hanya diukur melalui angka, maka pendidikan bahasa kehilangan orientasi kemanusiaan. Dampak sejati justru terletak pada perubahan kesadaran.

 

//Identitas Kebangsaan

Pendidikan bahasa juga berperan penting dalam pembentukan identitas kebangsaan. Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol persatuan dan sejarah kolektif. Di tengah dominasi bahasa global, pendidikan bahasa nasional menghadapi tantangan serius. Kurikulum berdampak harus menjaga fungsi bahasa sebagai perekat sosial. Tanpa kesadaran ini, pendidikan bahasa justru berpotensi mencabut peserta didik dari akar kebangsaannya. Bahasa adalah rumah identitas.

 

Selain bahasa nasional, bahasa daerah memiliki nilai pedagogis dan kultural yang tinggi. Bahasa daerah mengandung kearifan lokal dan cara pandang khas masyarakat. Namun, dalam praktik pendidikan formal, bahasa daerah sering dipinggirkan. Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan sendiri. Kurikulum berdampak seharusnya memberi ruang bagi keberagaman bahasa. Pendidikan bahasa yang berdampak adalah yang menghargai pluralitas. Bahasa daerah tidak boleh dipandang sebagai beban kurikulum.

 

Di tingkat praktik, guru bahasa menghadapi dilema antara tuntutan administratif dan idealisme pedagogis. Guru dituntut memenuhi target kurikulum, menyusun laporan, dan menyiapkan asesmen. Akibatnya, ruang kreatif pembelajaran bahasa menjadi sempit. Padahal, bahasa tumbuh melalui dialog, imajinasi, dan kebebasan berekspresi. Kurikulum berdampak harus memberi kepercayaan kepada guru, karena guru bahasa bukan sekadar pelaksana, melainkan pendidik reflektif.

 

Literasi Kritis

Pendidikan bahasa juga berkaitan erat dengan penguatan literasi kritis. Literasi tidak hanya berarti mampu membaca dan menulis, tetapi juga memahami konteks dan kepentingan di balik teks. Di era hoaks dan disinformasi, literasi kritis menjadi kebutuhan mendesak. Pendidikan harus melatih peserta didik menjadi pembaca dunia. Kurikulum berdampak akan kehilangan relevansi jika mengabaikan aspek ini. Pendidikan bahasa harus membekali peserta didik dengan daya kritis. Bahasa menjadi alat resistensi intelektual.

 

Aspek sastra sering diposisikan sebagai pelengkap dalam pendidikan bahasa. Padahal, sastra menawarkan pengalaman estetik dan empatik yang mendalam. Melalui sastra, peserta didik belajar memahami kompleksitas kehidupan manusia. Dalam konteks kurikulum berdampak, sastra harus ditempatkan sebagai inti pembelajaran bahasa. Sastra membentuk kepekaan moral dan sosial. Pendidikan bahasa tanpa sastra kehilangan jiwa kemanusiaannya.

Tags :
Kategori :

Terkait