Pendidikan Bahasa dalam Kurikulum Berdampak

Pendidikan Bahasa dalam Kurikulum Berdampak

Selasa 20 Jan 2026 - 20:26 WIB
Oleh: Admin

Oleh Dr. Shobrun Jamil, S.Pd.I., M.A. 

Dosen FTIK UIN Saizu Purwokerto

 

PENDIDIKAN bahasa menempati posisi yang sangat strategis dalam sistem pendidikan, sebab melalui bahasa manusia belajar berpikir, memahami dunia, dan membangun relasi sosial. Dalam konteks kebijakan pendidikan nasional saat ini, gagasan tentang Kurikulum Berdampak hadir sebagai upaya menjawab kritik bahwa pendidikan terlalu administratif dan kurang menyentuh realitas kehidupan peserta didik.

 

Pendidikan bahasa sering kali direduksi menjadi instrumen penguasaan kompetensi komunikatif semata. Padahal, bahasa bukan sekadar alat teknis, melainkan medium pembentukan kesadaran dan identitas. Jika kurikulum berdampak hanya dipahami secara pragmatis, maka pendidikan bahasa berisiko kehilangan ruh humanistiknya. Pendidikan bahasa semestinya menjadi fondasi pembentukan manusia yang berpikir dan berperasaan.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan di Indonesia diarahkan pada penguatan capaian pembelajaran yang terukur dan relevan dengan kebutuhan zaman. Kebijakan ini tidak lepas dari tuntutan global yang menekankan daya saing, literasi fungsional, dan kesiapan kerja. Pendidikan bahasa pun diarahkan pada penguasaan keterampilan berbicara, menulis, membaca, dan menyimak secara efektif. 

 

Namun, Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan yang hanya berorientasi pada keterampilan teknis akan melahirkan manusia yang terampil tetapi tidak kritis. Bahasa, menurut Freire, seharusnya menjadi alat pembebasan, bukan sekadar sarana adaptasi. Dalam konteks ini, kurikulum berdampak harus diuji secara kritis. Apakah ia benar-benar membebaskan peserta didik atau justru menundukkan mereka pada logika pasar.

 

//Dimensi Etis dan Politis

Bahasa tidak pernah netral, sebab di dalamnya terkandung nilai, ideologi, dan cara pandang terhadap realitas. Ketika peserta didik belajar bahasa, sejatinya mereka sedang belajar memaknai dunia. Oleh karena itu, pendidikan bahasa tidak bisa dilepaskan dari dimensi etis dan politis. 

 

Jurgen Habermas menekankan bahwa bahasa adalah medium tindakan komunikatif yang memungkinkan terciptanya rasionalitas dialogis. Jika pendidikan bahasa hanya diarahkan pada efisiensi komunikasi, maka ruang dialog kritis akan menyempit. Kurikulum berdampak seharusnya membuka ruang bagi peserta didik untuk berdialog secara setara. Pendidikan bahasa harus melatih keberanian berpendapat dan kesediaan mendengar.

Tags :
Kategori :

Terkait