Tujuan sang guru adalah untuk meminimalkan adanya anak-anak yang berkeliaran pada waktu magrib dan tawuran tadi. Pengajian yang diinisiasi sang guru itu tidak ada imbalan serupiah pun. Hal itulah yang membuat sang guru merasa malu jika sekarang hendak meminta biaya kepada orang tua mereka.
“Insya Allah ada saja rezeki kita, Bu.”
Sambil memegang tangan istrinya, sang guru meyakinkan kembali istrinya.
“Ibu kasihan sama Bapak.”
Terlihat mata istrinya berkaca-kaca. Butir-butir air tidak terasa keluar dari matanya. Air mata ketulusan sang istri untuk sang suami tercinta. Air mata penuh kasih sayang untuk suaminya tercinta.
“Sudahlah Bu, Bapak ikhlas kok.”
Ucapan sang guru itu menutup perbincangan mereka, karena istrinya tidak mampu berkata-kata lagi. Untuk ke sekian lakinya ia menyerah dengan kegigihan suaminya.
**
“Ini sedikit bantuan untuk Pak Guru.”
Sang guru terkejut menerima sebuah amplop putih tebal. Amplop itu kemungkinan berisi uang yang banyak. Amplop itu diserahkan oleh perwakilan orang tua anak-anak yang belajar mengaji kepadanya.