***
Siang hari itu cuaca sangat cerah. Sang guru dan istrinya duduk santai di teras rumah sederhana mereka. Sepiring singkong rebus hasil kebun menemani obrolan santai mereka. Asap kecil keluar dari singkong yang terlihat sangat empuk. Warna singkong yang kekuningan membangkitkan selera untuk segera menyantapnya. Dua gelas air putih menjadi teman sang singkong. Desiran angin seakan merestui suasana siang yang penuh cinta pasangan suami istri itu.
“Atau bapak berhenti saja jadi guru ngaji di kampung ini.”
Sang guru terkejut bukan main dengan statemen yang barusan diucapkan istrinya. Perkataan istrinya itu sungguh di luar perkiraannya.
Ia tidak menyangka istrinya yang selama ini sabar mampu berkata seperti itu. Atau mungkin istrinya sudah habis kesabaran menghadapinya. Begitulah yang ada dalam benak sang guru saat itu. Tapi, walaupun terkejut, ia tetap berusaha sabar menghadapi sang istri.
“Tidak bisa seperti itu Bu.”
“Kalau bapak pensiun mengajar mengaji, kasihan anak-anak itu.”
Sang guru masih berusaha meyakinkan istrinya.
“Anak-anak itu pasti akan menjadi liar kembali, jika tidak diajari agama.”
Sang istri masih belum menerima alibi sang guru. Sang istri masih diam dan masih dengan muka cemberut.
Dahulu anak-anak di kampung itu terkenal dengan kenakalannya. Tawuran dan perkelahian sering terjadi. Untuk menghentikan hal itu sang guru mengusulkan kepada orang tua untuk memberikan pelajaran ilmu agama sambil mengaji.