Walau sedikit agak kaget, siput tua yang rumahnya retak itu tetap menjelaskan.
“Sebenarnya aku benci dengan kuli bangunan yang membuat wahana ini, karena sudah menginjak rumahku sampai retak seperti ini. Tapi di sisi lain aku juga senang karena semenjak ada bangunan ini, aku mendapat banyak tempat untuk bersembunyi tanpa takut terinjak lagi,” siput tua menjelaskan dengan panjang lebar juga.
Anjing hitam kembali manggut-manggut.
“Sekarang apa alasanmu tidak setuju dengan bangunan wahana ini, cing” tanya anjing hitam kepada cacing tanah.
Mendapat pertanyaan itu, cacing tanah terdiam. Mukanya mendadak murung. Ia seperti sangat bersedih.
“Aku benci dengan mereka, karena sudah membunuh anggota keluargaku” cacing tanah mulai bercerita dengan wajah yang masih sendu.
“Mereka sangat biadap dan keji. Anggota keluargaku dimutilasi dengan cangkul mereka dan setelah itu mereka membuang potongan tubuh anggota keluarga secara brutal,” cacing tanah meneruskan ceritanya. Kali ini suaranya bergetar seperti menahan perasaan sedih dan dendam.
“mereka hanya ingin mengambil keuntungan untuk diri mereka sendiri, tanpa memperdulikan sekitarnya” setelah mengucapkan itu cacing tanah tidak lagi mampu berucap.
Mendengar fenomena itu, pihak pro dan kontra seperti dijangkiti penyakit tuna wicara, tidak ada satupun yang sanggup mengeluarkan aksara. Kejadian yang menimpa cacing tanah sungguh sangat tragis.
Tiba-tiba anjing hitam menyalak dan berdiri tegak. Anjing hitam berpikir inilah kesempatan untuk melakukan protes terhadap kebijakan yang tidak bijak itu. Aji mumpung pikirnya. Mumpung ada teman-teman yang mendukungnya.
“Sekarang siapa yang setuju ikut aku untuk berunjuk rasa” ajak anjing hitam kepada teman-temannya.