Di lembar paling belakang jurnal itu, ia menulis:
Terbiasa menggenggam dalam diam,
kini kuikhlaskan kau berjalan dalam tenang.
Tak semua rasa harus punya ruang,
kadang cukup dikenang, walau perlahan menghilang.
Malam harinya, Alea membersihkan meja belajarnya. Ia menarik laci kecil di sisi kiri, menyusun ulang buku dan alat tulis yang berserakan.
Di antara tumpukan kertas, ia menemukan sebuah buku kecil berjudul Jurnal Lapangan. Covernya sudah sedikit kusam, di dalamnya ada catatan yang rapi, grafik, dan lembar absensi harian yang tertulis dengan tulisan tangan.
Sebuah foto tergelincir dari dalamnya. Di foto itu, ada dirinya yang tersenyum cerah di bawah cahaya matahari. Di sampingnya, ada seorang laki-laki berdiri, menyeringai malu-malu. Wajah yang begitu asing, namun entah kenapa terasa dekat.
Di balik foto itu tertulis satu nama: Satria.
Alea mengerutkan kening.