Nyuntel
Ahmadi Sopyan-screnshot-
Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial dan Budaya
SUDAH terjadi di negeri kita ini apa yang pernah dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW: “Apabila suatu pekerjaan (jabatan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya”.
-----------
ADA orang besar karena jabatannya, ketika lepas masa jabatannya maka lepas pula kebesaran yang ia sandang. Ada orang besar karena hartanya, ketika ia jatuh bangkrut maka hilanglah kebesarannya. Ada orang besar karena pesona kecantikan dan ketampanannya, ketika pesona kecantikan dan ketampanannya pudar, maka pudar pula kebesarannya. Ada orang besar karena popularitasnya, ketika popularitasnya redup maka redup bahkan padam pula kebesaran yang ia sandang. Ada juga orang besar karena keturunannya, ada orang besar yang mendompleng kebesaran orang lain, dan ada pula orang besar karena sengaja dibesar-besarkan. Yang paling penting dalam kehidupan adalah menjadi besar karena akhlakul karimahnya. Karena inilah kebesaran yang tidak harus mengeluarkan modal dan bisa dimiliki oleh setiap orang.
Hidup adalah pilihan, bahkan untuk menjadi besar dan kecil sekalipun. Semuanya tergantung dari kesiapan dan pengolahan mental pada diri masing-masing. Ketika hati berkeinginan (bercita-cita) menjadi orang besar tapi berperilaku cengeng dalam setiap menghadapi persoalan bahkan untuk mencapai kebesaran tersebut, maka ketika sudah waktunya menjadi orang besar, perilaku cengeng dalam memimpin sulit untuk dikikis. Ketika orang besar atau orang yang memiliki pengaruh dalam kehidupan sosial berperilaku cengeng, maka akan berimbas kepada tatanan kehidupan sosial masyarakat. Ibaratnya, kalau anak kecil berperilaku cengeng, masih gampang diurus, tapi kalau orangtuanya yang berperilaku cengeng, pasti akan berpengaruh pada tatanan rumah tangga serta psikologi anak-anaknya.
Mental cengeng adalah mental yang tidak siap menghadapai persoalan hidup. Mental yang hanya siap menerima pujian dan segala yang manis-manis saja. Mental yang mendompleng orang lain atau keturunan sedangkan ia sendiri tidak memiliki kemampuan apa-apa. Mental cengeng adalah mental yang tidak berani bertanggungjawab dan selalu menyalahkan orang lain dibalik kegagalan yang ia raih. Mental cengeng adalah perilaku yang tidak senang melihat orang lain sukses dan bahagia melihat jika kawannya atau orang lain gagal. Kalau dalam bahasa gaul sekarang mental cengeng adalah mental SMS (Senang Melihat orang lain Susah dan Susah Melihat orang lain Senang).
***
SERINGKALI saya ungkapkan baik langsung lisan maupun tulisan, bahwa jabatan, popularitas, kehebatan, kekayaan bagaikan buah yang melekat ditangkai, sewaktu-waktu ia akan lepas. Apakah lepas karena sudah waktunya, ataukah karena tertiup angin atau bahkan dipetik manusia. Buah yang melekat ditangkai ini oleh orang Bangka disebut dengan kalimat “Intil-intil” atau “Nyuntil” alias “Nyuntel”.
Suatu ketika, seorang kawan yang belum lama dikenal, datang diskusi sambil duduk di teras rumah saya. Walaupun capek karena habis memancing ikan di sungai ditengah ditengah hutan, diskusi santai dengan ditemani kopi membahas banyak hal yang sedikit serius, salah satunya adalah memaknai sebuah jabatan. Maklumlah, anak muda sekarang kerap menganggap jabatan atau pangkat sebagai sesuatu yang “wah” dan ambisi untuk diraih sebagai status sosial kehidupan sekaligus sebagai lapangan pekerjaan, bukan pengabdian.
Kepada kawan, saya ungkapkan bahwa apa pun yang ada dalam kehidupan kita adalah penting. Jabatan itu penting, karena dengan jabatan seseorang memiliki wewenang dan dapat dengan mudah merubah sesuatu jauh lebih cepat sekedar tulisan maupun pidato. Jabatan itu penting karena dengan jabatan Undang-Undang dan Peraturan sah dibuat. Jabatan itu penting karena dengan jabatan, tandatangan dan stempel bisa merubah banyak hal.
Kepada kawan, saya nyerocos, bahwa popularitas itu penting karena dengan popularitas orang mudah mengenal. Popularitas itu penting karena bisa membuat orang cepat menoleh. Popularitas itu penting, apalagi sekarang adalah zaman teknologi serba canggih. Popularitas itu penting, karena media sosial dan media lainnya cenderung selalu menoleh kepada yang populer.
Kepada kawan, kembali saya ngoceh, bahwa kehebatan atau prestasi serta karya itu penting. Karena dengan memiliki kemampuan diatas orang kebanyakan, maka kita akan ditoleh dan dilirik. Kehebatan atau nilai itu penting, karena hidup harus meninggalkan kesan bagi keluarga, keturunan dan generasi yang akan datang.
Kepada kawan, kembali saya pidato bak Bung Karno, bahwa kekayaan itu penting. karena dengan kekayaan kita bisa membahagiakan keluarga. Kekayaan itu penting, karena dengan kekayaan kita bisa meletakkan tangan diatas bukan dibawah sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW. Kekayaan itu penting, karena dengan kekayaan itu kita bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Kekayaan itu penting, karena dengan kekayaan tak gampang idealisme tergadaikan.