Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Melihat Pohon tapi Tak Melihat Hutan

Ilustrasi-Screenshot-

CERPEN MARHAEN WIJAYANTO

 

Di dekat gerbang kraton barat itu ada teman kakek yang sudah bertahun- tahun tak dijumpai, namanya Pak Slamet. Beliau kaget karena badan saya sudah semakin tinggi, padahal ketika terakhir kali bertemu saya masih TK.  Pak Slamet memakai blangkon dan baju surjan lurik khas kota itu. 

 

Pertemuan bisa tertunda, tapi kenangan dan rasa masih tetap ada. Jarak hanyalah ujian, bagi kakek dan Pak Slamet persahabatan sejati tak akan luntur oleh waktu dan ruang. 

 

Usianya hampir tujuh puluh tahun, tapi ia masih kuat untuk mengendalikan delman untuk keliling kota. Meski rambut telah memutih, namun tekad itu tak pernah surut. Yang tua bukanlah semangatnya, namun kalendernya. Beliau sudah bekerja sejak usia belasan tahun. 

 

Kuda yang membawa kami itu bisa jadi adalah generasi ketiga, artinya hewan yang menarik kereta Pak Slamet bisa jadi saksi perubahan kota ini dari masa ke masa. 

 

Dari presiden ke presiden, dari yang dipilih rakyat ataupun yang sengaja dilengser karena gejolak masa. Kuda Pak Slamet seolah mampu menjembatani peristiwa dari masa ke masa. Mengalahkan mereka yang hanya mendengar tanpa mengalami.   

 

Katanya sejak zaman dahulu kota ini memang jadi barometer budaya hingga politik Indonesia. Dari sanalah pola pikir kakek terbentuk, hingga wajar, di usia lanjut beliau memiliki pemikiran sangat kritis pada kebijakan pemerintah dan isu sosial. 

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan