Melihat Pohon tapi Tak Melihat Hutan
Ilustrasi-Screenshot-
Akar pikir kakek tumbuh dari pengalaman dan air pembelajaran. Ibarat fondasi yang menentukan kokohnya sebuah bangunan, dari sanalah pandangan kakek tentang kehidupan terbentuk.
Pak Slamet bercerita, tepat dua puluh lima tahun silam, kotanya hancur lebur karena krisis ekonomi. Pembakaran ruko di mana-mana. Toko yang hangus di sudutnya ada tulisan, Pro Pribumi, Pro Rakyat, dan Hidup Reformasi.
Setiap hari mahasiswa datang hanya untuk demonstrasi dan tak lagi berpikir kuliah. Mahasiswa kala itu benar-benar sedang naik daun dan menjadi primadona. Katanya presiden takut dengan mahasiswa.
Mahasiswa takut dengan dosen, dosen takut dengan rektor, rektor takut dengan menteri, menteri takut dengan presiden, tetapi presiden takut pada mahasiswa, dan akhirnya mahasiswa takut dengan dosen. Kakek yang duduk di samping pak kusir langsung tertawa terbahak-bahak.
Katanya kalimat yang diucapkan Kakek petikan dari puisi milik salah satu cendekiawan muslim terkemuka. Ia adalah tokoh reformasi nasional. Bagaimana mungkin presiden takut dengan mahasiswa, kalau tidak terjadi gerakkan masif yang mampu melengserkan hegemoni kekuasaan.
“Itu namanya hukum tanam-petik. Dahulu kala, ada seorang tentara angkatan darat yang mendapat mandat dari presiden untuk mengendalikan keadaan negara yang huru-hara karena krisis pangan. Dia naik ke tampuk kekuasaan dengan gejolak sosial, maka ketika dia lengser, terjadi pula pergolakan masif.”
“Hidup adalah ladang, sedangkan perbuatan dan pikiran adalah benihnya. Buah kehidupan berasal dari benih pikiran yang ditanam. Setiap tindakan adalah benih, waktu akan menunjukkan hasilnya,” ujar Pak Slamet.
Kata Pak Slemet, perihal surat perintah itu sampai sekarang masih misterius, padahal itulah kunci pergeseran pergantian tampuk kekuasaan negara ini kala itu. Memang mengherankan, dokumen segenting itu bisa lenyap tak berbekas. Padahal di Leiden, orang menanam sayur zaman kolonial saja ada fotonya.