Baca Koran babelpos Online - Babelpos
Sabtu, 25 Jul 2026
Network
Beranda
Headline
Pangkalpinang
Politika
Daerah
Bangka
Bangka Tengah
Bangka Selatan
Bangka Barat
Belitung
Belitung Timur
Komunikasi Bisnis
Advetorial
Kolom
Catatan Politik
Bahasa
History
Taring
Soccer
Lainnya
Gadget
Hiburan
Literasi
Kesehatan
Nasional
Opini
Pendidikan
Network
Beranda
Opini
Detail Artikel
Pengilen
Reporter:
Admin
|
Editor:
Budi Rahmad
|
Jumat , 24 Jul 2026 - 18:24
Rusmin Sopian.-Dok Pribadi-
pengilen cerpen rusmin sopian markudut kaget saat membuka media sosialnya. jantungnya seakan-akan mau lepas dari katupnya. nafasnya naik turun. kritikan yang disampaikannya lewat koran tentang rencana pembangunan tugu kampung yang dianggapnya mubazir dan terkesan tanpa perencanaan yang baik, membuatnya harus menerima banyak hujatan. mulai dari hinaan hingga cacian yang sangat sadis di media sosial. media sosialnya dilempari komentar cacian, hinaan hingga hujatan yang teramat kejam. mengusik nuraninya sebagai manusia. "sekarang kamu baru pahamkan apa yang pernah dulu aku sampaikan dan pernah aku alami dulu, saat mengkritisi kebijakan pemimpin kampung kita ini," ungkap matgeriul, sahabat markudut saat mereka sedang menikmati secangkir kopi di sebuah warung kopi di ujung kampung. matahari di atas kepala. markudut terdiam. matanya menatap ke arah jalanan yang rusak parah yang tidak pernah diperhatikan pemerintah. jalanan itu membuat pengendara motor harus berhati-hati. kendaraan yang melewati jalanan itu harus terbatuk-batuk. itulah resiko yang kita terima ketika kita mengkritisi kinerja kepala kampung kita yang tidak becus memimpin kampung ini," lanjut matgeriul sembari menghirup kopi. "ya. tapi saya tidak akan pernah berhenti mengkritisi kinerja kepala kampung kita ini sebagai bentuk pertanggungjawaban moral saya kepada publik kampung kita karena telah mengajak warga kampung ini untuk memilih dia sebagai pemimpin kita," ucap markudut dengan intonasi nada suara yang tegas. mendengar jawaban markudut, matgeriul memberikan acungan dua jempol tangannya kepada markudut. "semangat kawan. teruslah mencintai kampung kita ini," pinta matgeriul. markudut tersenyum mendengar narasi heroik sahabatnya itu. sejujurnya, bukan hanya lewat komentar sadis di media sosial saja yang diterima markudut saat mengkritisi kebijakan pak kepala kampung. ada pula ancaman yang masuk ke nomor handphonenya dari nomor yang tidak dikenalnya. bahkan dirinya pernah diserempet sebuah mobil pada malam hari saat pulang dari acara kondangan keluarganya. semua yang dialaminya itu, tidak menyurutkan semangatnya untuk mengkritisi kebijakan pak kepala kampung. "saya mengkritisi kebijakan pak kepala kampung dalam kapasitasnya sebagai pemimpin kampung kita ini. bukan pribadi beliau. kalau beliau bukan kepala kampung kita, saya tidak akan pernah mengkritisi beliau," jelas markudut kepada beberapa warga kampung yang menanyakan kenapa dirinya hobi mengkritisi pak kepala kampung. "dulu saat beliau tidak mengemban amanah sebagai pemimpin kampung atau orang biasa seperti kita ini, saya tidak pernah sama sekali mengkritisi bahkan menyinggung beliau pun sama sekali tidak pernah. hubungan pribadi kami sangat baik," lanjut markudut. beberapa warga kampung yang mendengar uraian dari markudut terdiam. mulut mareka terkunci rapat. di mata matgeriul dan warga kampung, apa yang disampaikan markudut, tokoh muda kampung sungguh memberikan nilai-nilai pencerdasan bagi warga kampung. kritik yang disampaikannya adalah nutrisi yang menyehatkan bagi pemimpin kampung dalam menakhodai pemerintahan kampung. apalagi kritik yang disampaikan markudut di ruang publik itu , sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. bermuatan data. markudut tidak mengada-ada. tidak pula memfitnah kepala kampung sebagai pemimpin. hanya menyampaikan pendapat untuk kemajuan kampung mereka. "untuk kebermajuan kampung kita ini. hanya itu niat saya sebagai warga kampung. tak lebih dan tak kurang. tak niat untuk menjatuhkan dan merusak citra beliau sebagai pemimpin di kampung ini," jelasnya. apalagi, markudut pernah menjadi bagian dari tim pemenangan pak kepala kampung saat kontestasi politik beberapa tahun lalu yang menghantarkan pak kepala kampung mengemban amanah sebagai pemimpin kampung mereka. "apa yang disampaikan markudut adalah bentuk pertanggungjawaban moral beliau sebagai orang yang pernah membantu kepala kampung saat pemilihan kepala kampung yang lalu," cerita matgeriul kepada beberapa warga kampung saat mereka berkumpul di pos ronda kampung. cahaya rembulan diatas kepala. "betul, yang menjadi masalah terlalu banyak orang kampung kita ini yang menjadi pengilen kepala kampung kita ini," celetuk seorang warga kampung yang memakai baju kaos bergambar calon kepala daerah. "mereka yang menjadi pengilen kepala kampung takut kredibilitas mereka rusak di mata pak kepala kampung. mereka menjaga citra mereka dihadapan pak kepala kampung dengan cara membabi buta melawan warga kampung yang mengkritisi kebijakan pak kepala kampung," warga kampung yang lainnya menimpali. "soal kritik yang disampaikan warga kampung itu sesuai fakta, bagi kaum pengilen pak kepala kampung itu berbahaya bagi kredibilitas mareka. dalam pikiran mereka, yang utama adalah jangan ada yang mengkritisi kebijakan pak kepala kampung," sahut warga kampung yang lainnya. "pertanyaannya, apakah mereka dibayar? mendapat gaji? naik pangkat? dan apakah mereka sejahtera dengan menjadi pengilen kepala kampung kita itu?," tanya seorang warga kampung yang memakai topi berlogo sebuah merek dagang terkenal. warga kampung yang berada di pos ronda terdiam. tidak ada yang menjawab. seketika hening menghampiri pos ronda. di sebuah rumah yang terletak di ujung kampung, sekelompok orang sedang berkumpul. mereka berdiskusi dengan sangat serius. suara mereka lantang. melengking. bahkan terdengar suara perdebatan diantara sesama mereka. sinar rembulan malam mulai menuruni langit. "siapapun yang mengkritisi kinerja kepala kampung, harus kita lawan. harus kita serang. jangan kasih kesempatan dan beri ruang bagi mereka, warga kampung ini untuk mengkritisi kebijakan pak kepala kampung," pinta seorang warga kampung yang dikenal sebagai loyalis kepala kampung. "walaupun kritik yang disampaikan warga kampung itu fakta?" tanya seseorang dari mereka. "iya. kita jangan pernah memberikan ruang sejengkal pun kepada warga kampung untuk bersuara menyampaikan kritik kepada pimpinan kampung kita ini," jawab loyalis kepala kampung dengan suara lantang. suara lantang loyalis kepala kampung menakutkan cecak yang sedang merayap di plafon rumah. menakutkan anjing hutan yang sedang mencari mangsa di dekat hutan kecil tak jauh dari rumah mereka berkumpul. di mata hati para warga kampung, kaum loyalis kepala kampung itu dikenal dengan julukan pengilen. kaum pembela kepala kampung. mereka secara berkerumun menghantam warga kampung yang mengkritisi kebijakan pak kepala kampung. terutama di media sosial. komentar kelompok loyalis kepala kampung ini sangat sadis dengan bahasa yang kejam. bahkan terkadang amat vulgar diksi yang mereka tulis. "kalau pak kepala kampung masih berkuasa, kita tidak susah," ungkap seorang loyalis kepala kampung dengan ekspresi datar. "itu aku setuju. cuma persoalannya, pak kepala kampung kita itukan kekuasaannya terbatas. ada durasi waktunya. tidak bisa berkuasa seumur hidup. sementara kita ini sudah diberikan stempel oleh warga kampung kita sebagai pengilen . sebagai loyalis beliau," keluh seorang loyalis kepala kampung lainnya. "betul sekali kawan. kalau pak kepala kampung kita tidak berkuasa lagi, masih mungkinkah kita-kita ini menjadi pembela beliau? kita ini membela pak kepala kampung karena mendapatkan sesuatu," ungkap loyalis kepala kampung yang lainnya. semua terdiam. mulut mereka terkunci. tiba-tiba markudut merasakan sesuatu yang sangat aneh. ada sebuah keganjilan yang dirasakannya. kritik keras yang dilancarkannya kepada pak kepala kampung di koran tentang pembangunan sebuah posyandu tidak mendapat respons dari para loyalis kepala kampung. tidak ada respons negatif yang diterimanya lewat media sosialnya. bahkan yang teramat membingungkannya, semua nitizen yang berkomentar di kolom komentar media sosialnya, justru mendukungnya. memberikan apresiasi yang tinggi untuk kritiknya kepada pak kepala kampung. sesuatu yang belum pernah diterimanya selama menjadi kritikus kepala kampung. "mungkin mereka, kaum pengilen kepala kampung sudah sadar diri," ungkap seorang warga kampung. "iya. mereka paham bahwa jabatan kepala kampung yang mereka bela tidak seumur hidup. ada batas waktunya," celetuk warga kampung yang lainnya. "bisa jadi,.mereka memang sudah tidak menjadi pengilen lagi, karena jobnya sudah selesai. kontraknya sudah habis dan tidak diperpanjang lagi?," canda seorang warga kampung lainnya yang diiringi derai tawa para warga kampung. di program breaking news sebuah televisi berita, seorang reporter televisi melaporkan penangkapan seorang anggota tim relawan mantan seorang presiden oleh aparat keamanan. terlihat dalam gambar di televisi, mantan relawan presiden itu dibawa ke sebuah rumah tahanan dengan tangan diborgol. dulunya relawan itu dikenal sebagai loyalis mantan presiden dan amat getol membela secara membabi buta mantan presiden di berbagai program talk show acara televisi. toboali, 2026 catatan: pengilen (bahasa toboali): pembela rusmin sopian, penulis dan pegiat literasi yang tinggal di toboali bangka selatan.
1
2
3
4
»
Tag
Share
Koran Terkait
Kembali ke koran edisi Babel Pos 25 Juli 2026
Berita Terkini
Tecno Spark 50 Pro Diluncurkan, Chipset Helio G100 Ultimate, RAM 8GB
Gadget
7 jam
Diluncurkan 22 Juni Nanti, Ini Bocoran Spesifikasi Vivo X Fold 6
Gadget
7 jam
Kegiatan Paskibraka Pusat di Tempat Karantina!
Headline
7 jam
Soal Emas 74 Kg, Febrie Bungkam??
Headline
7 jam
Hilirisasi Sawit, Kunci Industri Nasional, Perkuat Beragam Produk Turunan
Headline
7 jam
MenPANRB Buka Peluang CPNS 2026, Formasi Masih Dihitung
Headline
7 jam
Ditahan, tak Diborgol dan Tanpa Rompi? 'Nyanyian' Febrie Ditunggu?
Headline
7 jam
Justin Hubner Terancam Absen di Piala AFF 2026?
Headline
7 jam
Tesla Luncurkan Sepeda Tanpa Pedal Seharga 3 Jutaan
Komunikasi Bisnis
1 hari
Spesifikasi Ponsel Premium Samsung Galaxy Z Fold 8 dan Fold 8 Ultra
Bangka Selatan
1 hari
Berita Terpopuler
Pengilen
Opini
1 hari
Tesla Luncurkan Sepeda Tanpa Pedal Seharga 3 Jutaan
Komunikasi Bisnis
1 hari
Lamine Yamal Tembus Level Haaland, Pemain Termahal Dunia
Headline
1 hari
Arti NKRI Harga Mati, Bukan Sekadar Slogan!
Headline
1 hari
PT Timah Temani Tumbuh Kembang Anak di Lingkar Tambang
Pangkalpinang
1 hari
UMKM Serap Nyaris 97 Persen Tenaga Kerja
Komunikasi Bisnis
1 hari
Berita Pilihan
Tatapan Nanar Edo dan Kerinduan Masa Lalu Tradisi Leluhur Suku Lum
History
1 minggu
Menyingkap Tabir Suku Lum di Desa Mapur: Antara Identitas yang Tersembunyi dan Jejak Tauhid Masa Lalu
History
1 minggu
CSR BSB Jadikan Sawah Namang Kian Memukau
Headline
4 minggu
Mengapa Richard Lee Ditahan?
Headline
4 bulan
Cukong Penyelundup Timah Masih Diburu
Headline
4 bulan