Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Pengilen

Rusmin Sopian.-Dok Pribadi-

Cerpen Rusmin Sopian 

Markudut kaget saat membuka media sosialnya. Jantungnya seakan-akan mau lepas dari katupnya. Nafasnya naik turun.

Kritikan  yang disampaikannya lewat koran  tentang rencana pembangunan Tugu Kampung yang dianggapnya mubazir dan terkesan tanpa perencanaan yang baik, membuatnya harus menerima banyak hujatan. Mulai dari hinaan hingga cacian yang sangat sadis di media sosial.

Media sosialnya dilempari komentar cacian, hinaan hingga hujatan yang teramat kejam. Mengusik nuraninya sebagai manusia.

"Sekarang kamu baru pahamkan apa yang pernah dulu aku sampaikan dan pernah aku alami dulu,  saat mengkritisi kebijakan Pemimpin Kampung kita ini," ungkap Matgeriul, sahabat Markudut saat mereka sedang menikmati secangkir kopi di sebuah warung kopi di ujung Kampung. Matahari di atas kepala.

Markudut terdiam. Matanya menatap ke arah jalanan yang rusak parah yang tidak pernah diperhatikan Pemerintah. Jalanan itu membuat pengendara motor harus berhati-hati. Kendaraan yang melewati jalanan itu harus terbatuk-batuk.

 Itulah resiko yang kita terima ketika kita mengkritisi kinerja Kepala Kampung kita yang tidak becus memimpin Kampung ini," lanjut Matgeriul sembari menghirup kopi.

"Ya. Tapi saya tidak akan pernah berhenti mengkritisi kinerja Kepala Kampung kita ini sebagai bentuk pertanggungjawaban moral saya kepada publik Kampung kita karena telah mengajak warga Kampung ini untuk memilih dia sebagai pemimpin kita," ucap Markudut dengan intonasi nada suara yang tegas. 

Mendengar jawaban Markudut, Matgeriul memberikan acungan dua jempol tangannya kepada Markudut.

"Semangat kawan. Teruslah mencintai Kampung kita ini," pinta Matgeriul. 

Markudut tersenyum mendengar narasi heroik sahabatnya itu.

Sejujurnya, bukan hanya lewat komentar sadis di media sosial saja yang diterima Markudut saat mengkritisi kebijakan Pak Kepala Kampung. 

Ada pula ancaman yang masuk ke nomor handphonenya dari nomor yang tidak dikenalnya. Bahkan dirinya pernah diserempet sebuah mobil pada malam hari saat  pulang dari acara kondangan keluarganya. Semua yang dialaminya itu,  tidak menyurutkan semangatnya untuk mengkritisi kebijakan Pak Kepala Kampung.

"Saya mengkritisi kebijakan Pak Kepala Kampung dalam  kapasitasnya sebagai pemimpin kampung kita ini. Bukan  pribadi beliau. Kalau beliau bukan Kepala Kampung kita, saya tidak akan pernah mengkritisi beliau," jelas Markudut kepada beberapa warga Kampung yang menanyakan kenapa dirinya hobi mengkritisi Pak Kepala Kampung.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan