Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Pengilen

Rusmin Sopian.-Dok Pribadi-

"Walaupun kritik yang disampaikan warga Kampung itu fakta?" tanya seseorang dari mereka.

"Iya. Kita jangan pernah memberikan ruang sejengkal pun kepada warga Kampung untuk bersuara menyampaikan kritik kepada Pimpinan Kampung kita ini," jawab loyalis Kepala Kampung dengan suara lantang. 

Suara lantang loyalis Kepala Kampung menakutkan cecak yang sedang merayap di plafon rumah. Menakutkan anjing hutan yang sedang mencari mangsa di dekat hutan kecil tak jauh dari rumah mereka berkumpul.

Di mata hati para warga Kampung, kaum loyalis Kepala Kampung itu dikenal dengan julukan pengilen. Kaum pembela Kepala Kampung. 

Mereka secara berkerumun menghantam warga Kampung yang mengkritisi kebijakan Pak Kepala Kampung. Terutama di media sosial. Komentar kelompok loyalis Kepala Kampung ini sangat sadis dengan bahasa yang kejam. Bahkan terkadang amat vulgar diksi yang mereka tulis.

"Kalau Pak Kepala Kampung masih berkuasa, kita tidak susah," ungkap seorang loyalis Kepala Kampung dengan ekspresi datar. 

"Itu aku setuju. Cuma persoalannya, Pak Kepala Kampung kita itukan kekuasaannya terbatas. Ada durasi waktunya. Tidak bisa berkuasa seumur hidup. Sementara kita ini sudah diberikan stempel oleh warga Kampung kita sebagai pengilen . Sebagai loyalis beliau," keluh seorang loyalis Kepala Kampung lainnya.

"Betul sekali kawan. Kalau Pak Kepala Kampung kita tidak berkuasa lagi, masih mungkinkah kita-kita ini menjadi pembela beliau? Kita ini membela Pak Kepala Kampung karena mendapatkan sesuatu," ungkap loyalis Kepala Kampung yang lainnya.

Semua terdiam. Mulut mereka terkunci.

Tiba-tiba Markudut merasakan sesuatu yang sangat aneh. Ada sebuah keganjilan yang dirasakannya.

Kritik keras yang dilancarkannya kepada Pak  Kepala Kampung di koran tentang pembangunan sebuah Posyandu tidak mendapat respons dari para loyalis Kepala Kampung. Tidak ada respons negatif yang diterimanya lewat media sosialnya. 

Bahkan yang teramat membingungkannya, semua nitizen yang berkomentar di kolom komentar media sosialnya, justru mendukungnya. 

Memberikan apresiasi yang tinggi untuk kritiknya kepada Pak  Kepala Kampung. Sesuatu yang belum pernah diterimanya selama menjadi kritikus Kepala Kampung.

"Mungkin mereka, kaum pengilen Kepala Kampung sudah sadar diri," ungkap seorang warga Kampung.

"Iya. Mereka paham bahwa jabatan Kepala Kampung yang mereka bela tidak seumur hidup. Ada batas waktunya," celetuk warga Kampung yang lainnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan