MBG dan Beban Baru di Sekolah
Nilawati.-Dok Pribadi-
Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi ketika satu persoalan terus diabaikan, suasana dan kualitas pendidikan perlahan ikut terganggu. Dalam situasi seperti itu, peserta didik memang tetap menerima asupan makanan, tetapi proses belajarnya belum tentu berlangsung secara mendalam dan bermakna.
Di sisi lain, guru tetap menjalankan tugas mengajar, meski dalam tekanan yang perlahan mengurangi kualitas kehadiran profesional mereka di ruang kelas. Pendidikan sulit berjalan baik apabila perhatian hanya diberikan pada satu sisi, sementara sisi lainnya terus diabaikan.
Karena itu, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis perlu diperkuat secara lebih menyeluruh dan sistematis. Pengawasan kualitas makanan harus dilakukan secara berlapis, mulai dari proses penyediaan, distribusi, hingga konsumsi di sekolah, dengan standar yang ketat agar makanan benar-benar aman, bergizi, dan layak dikonsumsi. Evaluasi berkala juga perlu dilakukan secara terbuka agar berbagai kelemahan tidak menjadi masalah yang berulang.
Selain itu, pelibatan sekolah harus diatur secara proporsional agar tidak membebani fungsi utama pendidikan, sebab sekolah seharusnya tidak menjadi pusat beban teknis kebijakan. Sudah saatnya ruang gerak guru dipulihkan pada inti profesinya, sehingga tidak terseret terlalu jauh ke dalam beban teknis yang bukan ranah utama pendidikan. Dengan demikian, guru dapat kembali hadir sebagai pendidik yang membimbing, menginspirasi, dan membentuk karakter peserta didik secara lebih utuh dan bermakna.
Pada akhirnya, Program Makan Bergizi Gratis menunjukkan adanya kepedulian terhadap anak-anak yang setiap hari belajar dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Namun sebuah program tidak cukup dinilai dari niat baiknya saja, melainkan dari bagaimana pelaksanaannya benar-benar memberi manfaat di sekolah.
Pendidikan tidak dibangun hanya melalui satu program besar, tetapi melalui kebijakan yang saling mendukung dan berjalan seimbang. Proses belajar akan berjalan lebih baik ketika anak-anak dapat mengikuti pelajaran dengan tenang dan guru tidak terus dibebani kegelisahan tentang kehidupan mereka sendiri. Di titik itulah, MBG tidak lagi sekadar program, tetapi menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi.**