MBG dan Beban Baru di Sekolah
Nilawati.-Dok Pribadi-
Di banyak satuan pendidikan, program ini tidak hanya berhenti pada distribusi makanan, tetapi merembet menjadi pekerjaan teknis yang melibatkan guru secara langsung. Mulai dari pendataan peserta didik, pengawasan distribusi, hingga penanganan masalah logistik di lapangan.
Persoalan terganggunya jam belajar mengajar serta sisa sisa makanan yang tidak habis termakan oleh peserta didik, otomatis hal ini menimbulkan masalah yang cukup meresahkan ditengah tugas mengajar yang sudah padat, guru juga ikut disibukkan dengan berbagai urusan teknis agar program tetap berjalan lancar.
Dalam situasi seperti ini, fokus guru di sekolah perlahan bergeser, tidak lagi sepenuhnya tertuju pada proses pembelajaran di kelas. Sedikit demi sedikit, perhatian guru terhadap pembelajaran ikut terbagi karena harus mengurus berbagai urusan teknis di sekolah.
Padahal, kita pahami bersama bahwa guru memiliki tugas utama yang sangat strategis, yakni merancang pembelajaran, membimbing proses berpikir, serta membentuk karakter dan nilai kehidupan peserta didik. Beban administratif dan teknis yang berlebihan membuat energi guru terpecah, sehingga kedalaman interaksi pembelajaran di kelas tidak lagi optimal. Dalam jangka panjang, hal ini bukan hanya soal beban kerja, tetapi juga soal mutu pendidikan yang dibangun setiap hari di ruang kelas.
Ironisnya, pada saat beban kerja di sekolah meningkat, persoalan kesejahteraan guru hingga kini juga belum sepenuhnya terselesaikan. Setelah bertahun-tahun mengabdi, masih banyak guru honorer yang menerima penghasilan jauh di bawah kelayakan hidup, bahkan di beberapa tempat hanya ratusan ribu rupiah per bulan.
Sebagian harus merangkap di beberapa sekolah, sebagian lain menempuh perjalanan jauh setiap hari demi mempertahankan profesinya sebagai pendidik. Dalam kondisi seperti ini, muncul paradoks yang sulit diabaikan: negara hadir dengan berbagai program besar untuk peserta didik, tetapi para pelaksana utama pendidikan masih berada dalam posisi rentan secara ekonomi dan penuh ketidakpastian masa depan.
Dari realitas tersebut muncul pertanyaan reflektif yang semakin relevan: apakah pendidikan cukup dibangun hanya dengan memastikan anak tidak lapar, sementara para pendidiknya masih hidup dalam ketidakpastian? Tidak dapat dipungkiri, banyak peserta didik merasakan manfaat dari program tersebut. Dari situ terlihat bahwa perhatian terhadap peserta didik tidak dapat berjalan sendiri tanpa memperhatikan keadaan guru yang mendampingi mereka setiap hari.