MBG dan Beban Baru di Sekolah
Nilawati.-Dok Pribadi-
Oleh Nilawati, S.Pd.I, M.Pd.
Guru SMA Negeri I Air Gegas Kabupaten Bangka Selatan
DI Banyak ruang kelas, pagi tidak selalu dimulai dengan kondisi yang sama bagi setiap anak. Tidak sedikit peserta didik yang datang ke sekolah tanpa sempat sarapan dengan layak. Ada yang hanya membawa bekal sederhana, ada pula yang menunggu waktu pulang untuk bisa makan lebih baik di rumah.
Dalam kondisi seperti itu, belajar tentu bukan hal yang mudah. Guru sering mendapati beberapa peserta didik kehilangan fokus saat pelajaran berlangsung karena fisik mereka tidak benar-benar siap untuk belajar. Di beberapa sekolah, keadaan seperti ini bukan hal baru.
Ada peserta didik yang tetap mengikuti pelajaran meskipun sejak pagi belum makan dengan cukup. Sebagian peserta didik tampak cepat lelah ketika mengikuti pelajaran. Ada yang terlihat tidak bersemangat dan sulit mempertahankan konsentrasi selama kegiatan belajar berlangsung. Hal-hal sederhana seperti ini menunjukkan bahwa persoalan gizi masih menjadi bagian dari realitas pendidikan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Dalam konteks tersebut, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir membawa narasi besar tentang pemerataan gizi dan penguatan kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah. Tidak dapat disangkal, gagasan ini lahir dari niat yang baik. Negara hadir untuk memastikan bahwa tidak ada anak yang belajar dalam keadaan lapar.
Secara teoritis, hubungan antara gizi dan prestasi belajar memang tidak dapat dibantah karena anak yang terpenuhi kebutuhan nutrisinya cenderung lebih stabil secara emosi, lebih fokus, dan lebih siap menerima proses pembelajaran. Selain itu, bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, program ini menghadirkan sedikit ketenangan karena membantu meringankan beban harian mereka, terutama bagi orang tua yang setiap hari harus membagi penghasilan pas-pasan untuk berbagai kebutuhan keluarga.
Namun dalam praktik kebijakan publik, niat baik tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas implementasi. Di titik inilah MBG mulai menunjukkan wajah ganda yaitu sebagai program kemanusiaan sekaligus sebagai sistem birokrasi baru yang membebani ekosistem sekolah.