Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Pengalok dan Penyerurok

Rusmin Sopian.-dok-

 

Pemimpin ideal menurut Plato adalah mereka yang mampu berpikir jernih di tengah tekanan, tidak emosional, dan tidak mudah terseret ambisi mempertahankan citra diri.

 

Plato juga mengingatkan bahwa pemimpin yang terlalu mencintai kekuasaan atau terlalu haus penghormatan akan cenderung berubah menjadi otoriter.

 

Profesor Selo Soemarjan, mengingatkan kita semua bahwa masyarakat Indonesia adalah penganut kebudayaan malu. Bahkan di beberapa daerah, nilai-nilai budayanya membenarkan orang menebus malunya dengan jiwanya sendiri atau orang lain, Carok di Madura atau siri di Bugis.

 

Dalam masyarakat yang menganut kebudayaan malu, perkara kritik menjadi sangat pelik. Bagaimana menyampaikan kritik menjadi sangat pelik. Untuk itu, Profesor Selo Soemarjan, bernasihat. Melakukan kritik itu dibuat sedemikian manisnya sehingga yang dikritik bisa ketawa terbahak-bahak,  sekurang-kurangnya bisa tersenyum geli.

 

Seorang teman saya pernah bercerita, bagaimana dia mampu mengkritisi kebijakan seorang pemimpin daerah tanpa membuat pemimpin itu marah. Bahkan mereka bisa bersahabat baik.

 

Caranya ungkap teman saya tadi, dalam pertemuan itu teman saya selama kurun waktu 15 menit pertama "mengalok" atau dalam bahasa Toboalinya diartikan dengan memuji dulu keberhasilannya sebagai pemimpin pilihan rakyat. Tensitas "ngalok" atau memuji tadi tensitasnya diturunkan dalam 15 menit berikutnya.

 

Dan selanjutnya teman saya tadi mulai mengkritisi kebijakan sang pemimpin tadi habis-habisan dengan fakta-fakta yang terjadi di masyarakat. Sang pemimpin tadi mengakui kritik yang disampaikan teman saya tadi benar dan berdasarkan fakta yang terjadi dan menerimanya dengan lapang dada.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan