Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Pengalok dan Penyerurok

Rusmin Sopian.-dok-

Namun teman saya tadi nyaris celaka saat berdialog dengan seorang pemimpin yang hobby dipuji atau "mintak alok". Kendati kritik yang disampaikan teman saya tadi berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di masyarakat, pemimpin yang hobi "mintak alok" tadi berasumsi teman saya menghina dan memfitnah dirinya.

 

Dalam benak pikiran pemimpin mintak alok ini, kritik yang disampaikan teman saya adalah pil pahit dan bukan sebuah vitamin yang menyehatkan dirinya. 

 

Padahal seorang pemimpin yang demokratis adalah pemimpin yang merangkum semua aspirasi yang lahir dan mendengarkan apa yang disampaikan rakyat, termasuk pahitnya sebuah narasi kritik. Karena itu semua untuk kebaikan bersama. termasuk kebaikan untuk sang pemimpin sendiri.

 

Ketika kritik dianggap ancaman, maka kekuasaan perlahan kehilangan kebijaksanaan. Pemimpin semacam ini lebih sibuk menjaga kehormatan pribadi dibanding mendengar kegelisahan rakyat.

 

Karena itu, respons terhadap kritik sebenarnya menjadi ukuran kualitas kepemimpinan. Pemimpin yang matang akan memilih transparansi, klarifikasi, dan argumentasi terbuka.

 

Ia tidak takut diperiksa opini publik karena percaya integritasnya dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, pemimpin yang terlalu defensif justru memunculkan kesan bahwa kekuasaan sedang dipakai untuk melindungi diri sendiri.

 

Tantangan ke depan bagi mereka yang merasa dirinya pemimpin rakyat adalah siap untuk menerima narasi kritik dengan lapang dada dan menerima diksi berupa pujian sebagai bekal untuk mengaplikasikan visi dan misinya untuk kepentingan rakyat. 

 

Ketika  sebuah pemerintah menolak kritik, sirkulasi informasi akan tersumbat. Hal ini membuat pemerintah buta terhadap realitas penderitaan dan ketidakpuasan masyarakat. Pada sisi lain, pemimpin yang anti-kritik pada hakikatnya sedang mengingkari rahim demokrasi yang telah melahirkannya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan