Kurban as Love in Action
Siti Aminah.-Dok Pribadi-
Berdasarkan perspektif pendidikan karakter, maka kurban sangat efektif untuk menanamkan empathy, caring, giving, dan sharing. Murid belajar berempati ketika ia mampu membayangkan/memahami kebutuhan orang lain. Murid belajar peduli ketika ia menyadari bahwa tidak semua keluarga memiliki kesempatan menikmati makanan yang cukup setiap hari.
Murid belajar berbagi/memberi ketika ia memahami bahwa sebagian yang dimilikinya dapat menjadi kebahagiaan bagi orang lain. Murid belajar berbagi ketika ia ikut melihat proses distribusi kurban dilakukan secara adil, transparan dan penuh tanggung jawab.
Berbagai kajian pendidikan agama dalam beberapa tahun terakhir juga menegaskan akan pentingnya nilai cinta dan kasih sayang yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran. Sukiman, Suyatno, dan Yap (2021) menekankan bahwa nilai love and compassion sudah terdapat dalam pendidikan agama, akan tetapi internalisasinya perlu diperkuat melalui berbagai metode yang lebih efektif, seperti keteladanan, pembiasaan, dan refleksi. Sementara itu, Susilawati, Sugiharto, Sunawan, dan Mugiarso (2025) menunjukkan bahwa empati dalam pendidikan karakter keagamaan dapat dikembangkan melalui cerita religius, refleksi spiritual, dialog, dan service learning.
Di lingkungan madrasah/sekolah, ibadah kurban dapat dikembangkan menjadi character building moment. Murid tidak harus selalu dilibatkan dalam hal-hal teknis yang berat, akan tetapi dapat dilibatkan dalam kegiatan edukatif, seperti membuat poster nilai kurban, menulis refleksi tentang makna berbagi, membantu menata paket sesuai arahan guru, atau menyusun kampanye kecil bertema “Berbagi Itu Indah”, atau tema-tema lain yang relevan. Dengan cara ini, diharapkan bahwa kurban tidak hanya pelaksanaan agenda tahunan, akan tetapi lebih tepat sebagai salah satu proyek pembentukan karakter murid.
Apabila kita berbicara tentang karakter murid, maka keluarga juga memiliki peran yang sangat penting. Orang tua dapat menjelaskan kepada anak bahwa kurban bukan sebagai ajang pamer kemampuan ekonomi, melainkan bentuk syukur dan kepedulian dengan sesama. Anak perlu dibiasakan melihat bahwa ibadah yang baik tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi, tetapi justru membuatnya lebih rendah hati dan lebih peduli. Ketika keluarga, sekolah/madrasah, dan masyarakat memberi contoh yang sejalan, maka anak akan menangkap pesan bahwa agama adalah jalan untuk mencintai Allah dan memuliakan manusia.
Dengan demikian, kurban perlu dihadirkan sebagai sebuah proses pembelajaran yang holistik. Guru mengajarkan dasar hukumnya, dan madrasah mengelola kegiatan sosialnya, kemudian keluarga memperkuat maknanya, dan murid difasilitasi untuk mengalami nilai kebaikannya. Startegi semacam ini membuat KBC tidak sekedar berhenti sebagai konsep semata, akan tetapi benar-benar hidup dalam praktik.
Anak tidak hanya diajak menjadi pintar secara akademik semata, akan tetapi juga bertumbuh menjadi pribadi yang humanis, peka, murah hati, dan sanggup merasakan keadaan/penderitaan orang lain. Sikap ini mustahil muncul tanpa melalui proses pembiasaan secara berkelanjutan, dan saling menguatkan pada masing-masing lingkungan belajar murid (sekolah/madrasah, keluarga dan masyarakat).
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa kurban mengajarkan bahwa cinta sejati selalu melahirkan pengorbanan. Cinta Allah melahirkan ketaatan. Cinta kepada sesama melahirkan kepedulian. Cinta kepada kehidupan melahirkan tanggung jawab. Inilah makna kurban sebagai love in action, sekaligus wujud nyata KBC dalam membentuk karakter anak yang religius, empatik, peduli, dan gemar berbagi. Jika nilai ini ditanamkan sedini mungkin, maka pantas diharapkan anak-anak akan tumbuh bukan hanya sebagai generasi yang cerdas secara akademik semata, akan tetapi juga generasi yang memiliki hati, kasih sayang, kepedulian sosial serta cerdas secara religi.(sumber kemenag.go.id dengan judul yang sama)