Kurban as Love in Action
Siti Aminah.-Dok Pribadi-
Akan tetapi di balik kurban terdapat pesan mendalam dalam pembentukan karakter murid yang secara nyata. Murid perlu diajak memahami bahwa orang yang berkurban sedang belajar menundukkan ego, mengendalikan rasa memiliki, serta membagikan sebagian rezekinya agar orang lain ikut merasakan kebahagiaan bersama-sama. Di sinilah makna kurban menjadi pembelajaran karakter yang nyata bagi murid.
Implementasi KBC menuntut pembelajaran agama yang tidak hanya sekedar menguatkan aspek pengetahuan saja, akan tetapi juga membentuk hati dan perilaku murid dalam kehidupan nyata. Apabila murid kita hanya mengetahui hukum kurban semata, akan tetapi tidak memiliki pemahaman akan nilai empati di dalam dirinya, maka pembelajaran agama belum sepenuhnya membumi.
Namun sebaliknya, apabila murid diajak menyaksikan bahwa daging sembelihan kurban dibagikan kepada keluarga, tetangga, fakir miskin, dan masyarakat yang membutuhkan, maka murid sudah berproses dan belajar bahwa agama sebetulnya hadir untuk menebarkan kasih sayang sosial. Dalam hal ini praktik ibadah kurban di sekolah/madrasah sebagai wahana pengembangan afektif bagi murid guna membentuk karakter hidup secara harmonis di lingkungan masyarakat masing-masing.
Pesan ini sejalan dengan makna kurban dalam syari’at Islam. Al-Qur'an menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah SWT bukan daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan manusia. Artinya, bahwa kurban itu bukan sekadar tindakan lahiriah semata, akan tetapi sebagai latihan batin untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT (hablum minallaah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minan naas).
Hal ini dapat dipahami bahwa Islam sangat menekankan betapa pentingnya keseimbangan dalam beribadah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menegaskan bahwa kurban mengandung nilai pengorbanan, keikhlasan, kepedulian sosial, serta kemampuan menyembelih sifat egois dalam diri manusia (Majelis Ulama Indonesia, 2026).
Pendidikan agama yang hidup adalah pendidikan yang mampu menyentuh pengalaman riil pada kehidupan keseharian murid. Guru dapat menjadikan kurban sebagai real life learning dengan mengajak murid berdiskusi, meefleksi, dan terlibat secara aktif dan partisipatif sesuai usia mereka.
Murid dapat diajak berdialog: mengapa dalam berkurban daging harus dibagikan? Mengapa kebahagiaan hari raya Iduladha tidak boleh dinikmati sendiri? Bagaimana perasaan orang yang menerima daging kurban? Pertanyaan seperti ini memotivasi murid untuk berpikir tentang hakikat ibadah kurban, sehingga menimbulkan proses berpikir guna memahami bahwa ibadah memiliki dimensi sosial, bukan hanya dimensi ritual semata.