Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Catatan dari Balik Layar TKA SMPN 2 Dendang

Andy Muhtadin.-Dok Pribadi-

Serta memahami bahwa TKA adalah pemetaan bakat, bukan vonis masa depan bagi anak kita. Dukungan moral ini sangat urgen ketika terjadi kendala teknis. Hal itu jauh lebih berharga dari pada tuntutan angka-angka tadi.

 

Ketiga, tanggung jawab murid dalam kemandirian belajar. Di era Kurikulum Merdeka, murid adalah subjek. Sukses TKA bukan soal menghafal rumus, akan tetapi soal ketajaman nalar yang HOTS. Murid kita sebaiknya bertanggung jawab melatih daya kritisnya dan kejujuran intelektual individunya masing-masing. 

 

Kali ini ujian digital menuntut integritas pribadi karena pengawas virtual "Zoom" mungkin tidak melihat segalanya, tapi hati nurani murid adalah pengawas yang paling hakiki.

 

//"Resilien" Asesmen Masa Depan

Melihat kendala yang terjadi di SMPN 2 Dendang kali ini, ada tawaran tiga solusi yang konkret untuk masa depan asesmen Indonesia mendatang :

 

(1) Sistem Offline-Hybrid Berbasis Enkripsi. Terutama untuk daerah dengan cuaca ekstrem dan listrik tidak stabil, sistem ujian tidak boleh 100% full online. Perlu ada teknologi di mana soal di unduh sekali (encrypted), dikerjakan secara lokal dan di unggah saat sinyal stabil tanpa memotong durasi waktu kerja murid saat sinyal hilang.

 

(2) Adakan Audit Sarana secara Berkala. Andil Pemerintah dalam wewenang untuk memiliki database "umur alat". Alat yang sudah berusia di atas 4 tahun lebih  harus otomatis masuk daftar peremajaan. Sehingga pihak sekolah tidak perlu lagi melakukan "diplomasi pinjam alat" antar satuan pendidikan.

 

(3) Solusi selanjutnya adalah lakukan Asesmen Berbasis Portofolio Digital. Kita harus mulai perlahan menggeser beban TKA ke arah portofolio. Jika prestasi akademik murid terekam secara konsisten di Cloud sejak kelas VII, maka gangguan internet saat hari-H kelas IX tidak akan menjadi "kiamat kecil" bagi masa depan mereka.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan