Catatan dari Balik Layar TKA SMPN 2 Dendang
Andy Muhtadin.-Dok Pribadi-
Sebelum kita sampai pada era TKA saat ini, titik balik besar terjadi dengan munculnya Asesmen Nasional (AN). Jika dulu UN fokus menghakimi hasil belajar murid secara individu, AN hadir untuk memotret "kesehatan" satuan pendidikan secara utuh. Kehadiran AKM serta survei karakter telah menggeser paradigma asesmen kita.
Pertanyaan besarnya bukan lagi mengenai capaian skor individu murid kita, melainkan mengenai potret ekosistem pendidikan saja. Tetapi juga, apakah pihak sekolah sudah bagus dalam memfasilitasi agar perkembangan karakter murid-murid kita tumbuh sesuai tujuan pendidikan.
Sehingga AN menjadi landasan penting dalam Rapor Pendidikan. Namun, di lapangan, AN juga mengungkap realitas pahit. Literasi digital murid sering kali terhambat bukan karena rendahnya daya nalar, melainkan karena gagap navigasi teknologi akibat alat yang tidak memadai. Di sinilah letak urgensi infrastruktur yang merata.
Kini, di tahun 2026 ini, kita berada di era TKA dan AN. Perbedaannya sangat fundamental. AN memotret mutu sekolah, sementara TKA yang bersifat sukarela dan memvalidasi kompetensi individu untuk jalur prestasi. Kita telah bergeser dari sistem yang "menghakimi" menuju sistem yang "mendiagnosa". Namun, apakah transisi ini berjalan mulus di lapangan?.
//Realita Politik Sarana dan Gangguan Alam
Di SMPN 2 Dendang, narasi besar digitalisasi ini berbenturan dengan realita sarana yang sangat getir dirasakan warga sekolah. Sesuai jadwal nasional, pelaksanaan utama TKA jenjang SMP jatuh pada 6 hingga 16 April 2026. Namun, untuk mengejar tenggat waktu tersebut, sekolah ini harus melakukan "diplomasi pinjam alat"—meminjam unit Chromebook dari SD Negeri 1 dan SD Negeri 3 Dendang. Hal ini terpaksa dilakukan karena unit bantuan tahun 2019 milik sekolah hanya tersisa lima yang layak pakai.
Ini adalah "Politik Sarana" yang belum tuntas menjadi PR besar bagi pemangku pendidikan saat ini. Sistem pusat berlari dengan kecepatan 5G, sementara itu infrastruktur daerah masih di jalur lambat. Ketika teknologi dipaksakan tanpa mitigasi infrastruktur yang merata, maka kegagalan teknis menjadi tak terelakkan.
Puncaknya terjadi hari pertama, 6 April 2026. Di tengah ujian, gangguan cuaca dan pemadaman listrik akibat sambaran petir menyebabkan jaringan internet down untuk beberapa saat. Akibatnya, 14 murid terhenti di tengah jalan karena waktu sistem terus berjalan saat koneksi terputus. Mereka kini harus menunggu jadwal TKA Susulan pada 11 – 17 Mei 2026.