Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Menakar Keefektifan Budaya Kerja BerAKHLAK: Birokrasi yang Bertransformasi

Dwi Okta Wijaya.-screenshot-

 

Oleh karena itu, dalam mengevaluasi kebijakan ini berarti melihat bagaimana nilai ini menjadi bagian tak terpisahkan dari pelayanan yang telah dilakukan semua aparatur, atau hanya sekedar formalitas aturan dan semboyan yang dilakukan berulang-ulang sampai kehilangan makna.

 

Dalam data yang dirilis oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemePANRB) pada ASN Culture Festival 2024, Indeks BerAKHLAK secara nasional berada pada persentase 68,1%, meningkat dari tahun sebelumnya yang berada pada posisi 61,1%. Kenaikan ini dapat dibaca sebagai sebuah keberhasilan penting secara keseluruhan. 

 

Namun jika dilihat lebih spesifik, ada hasil data yang menunjukkan bahwa terjadi kesenjangan yang cukup lebar nilai indeks antara wilayah pusat, Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa. Kenaikan indeks secara nasional adalah suatu capaian yang harus diapresiasi, namun disparitas antar zona wilayah jangan dibiarkan saja. Keberhasilan tidak dapat hanya diukur dari nilai akhir yang ada, tapi bagaimana nilai budaya kerja ini dapat memberikan perubahan pola kerja birokrasi, lalu dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, di mana pun berada.

 

Dalam mengimplementasikan nilai BerAKHLAK ini, masalah yang sering terjadi adalah transformasi terhenti pada formalitas, bukan pada proses perubahan perilaku. Sosialisasi dilakukan, promosi dengan media dan alat peraga dibuat, bahkan nilai ini diucapkan berulang-ulang pada setiap kegiatan apel atau upacara, namun tidak sampai pada tahap internalisasi. 

 

Nilai yang ada tidak menyentuh sampai ke hati, tidak mewujud dalam semua tindakan, jadi sekedar hafalan dan jargon. Aparatur tidak merasa bersalah jika masuk terlambat, pulang terlalu cepat, masyarakat yang dilayani harus menunggu lama diluar SOP, adanya pungutan liar, hanya bekerja baik jika ada atasan yang melihat, dan lain-lain. Nilai BerAKHLAK yang diharapkan menjadi karakter aparatur justru tidak mengkristal dalam perilaku, tapi hanya terlihat jika ada dorongan lain yang mengharuskannya, misalnya saat diawasi pimpinan atau ada timbal balik finansial.

 

Hal lainnya adalah benturan nilai BerAKHLAK dengan kebiasaan sosial dan kepentingan politik. Banyak pegawai yang sungkan untuk berhadapan langsung dengan atasan atau pimpinan dalam menghadapi masalah pekerjaan, walaupun secara sadar paham bahwa tindakan yang diambil akan berakibat tidak baik untuk tujuan organisasi dan keselamatan individu itu sendiri. 

 

Penerapan gaya politik praktis yang kerap memberikan tekanan pada aparatur juga memiliki andil. Misalnya dengan dalih promosi atau mutasi. Akhirnya berdampak pada sistem merit yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aparatur yang kompeten bisa kalah oleh mereka yang dekat dengan pimpinan. Ini tentunya berseberangan dengan nilai Loyal dalam BerAKHLAK, yang menekankan keloyalan kepada negara, bukan pribadi pejabat atau pimpinan. 

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan