Menakar Keefektifan Budaya Kerja BerAKHLAK: Birokrasi yang Bertransformasi
Dwi Okta Wijaya.-screenshot-
Selain itu, aparatur yang lain akhirnya akan menganggap bahwa sistem merit sekedar sangar di tataran kebijakan, namun ciut kehilangan nyali ketika berhadapan dengan penguasa atau kepentingan politik praktis.
Pimpinan sebagai role model merupakan bagian dari cara untuk memastikan nilai BerAKHKLAK ini berhasil, sayangnya masih kerap terjadi inkonsistensi pada keteladanan pimpinan ini. Kampanye dan jargon BerAKHLAK sering dilakukan, namun nilainya malah tidak tercermin dengan baik dalam perilaku kerja sehari-hari.
Misalnya nilai Harmonis diharapkan dapat terwujud, tapi pimpinan bersikap otoriter, tidak mendengarkan saran dan opini bawahan, atau Asal Bapak Senang. Kerap terjadi adanya bawahan yang selalu dinomorsatukan dibanding yang lain, tanpa memberikan ruang untuk yang lainnya berkembang, baik dalam hal kompetensi dan hubungan kerja.
BerAKHLAK sebagai panduan moral dan perilaku pimpinan tidak menyentuh sampai ke tindakan, tapi hanya sekedar pemenuhan kewajiban. Jika pimpinan tidak bisa menjadi role model, bagaimana bawahan dapat mencontoh budaya kerja yang baik dari pimpinannya sendiri.
Masih banyak dimensi lainnya yang dapat dijadikan evaluasi dalam kebijakan budaya kerja Core Values ASN BerAKHLAK ini. Indikator dapat ditelisik pada setiap nilainya. Misalnya saat bicara nilai Akuntabel, kita dapat mengevaluasi apakah anggaran yang ada dipertanggungjawabkan dengan baik dan memiliki bukti faktual, benarkah setiap laporan kerja yang dibuat oleh ASN, apakah aparatur bekerja sesuai jam kerjanya, dan hal lainnya.
Dalam nilai Adaptif, kita dapat mengevaluasi apakah Perangkat Daerah atau aparatur beradaptasi dengan baik dengan digitalisasi dan pemanfaatan teknologi dalam pekerjaannya, seberapa siap aparatur dengan infrastruktur yang ada, inovasi apa saja yang sudah ada dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat.
Evaluasi menyeluruh harus bisa melihat transformasi birokrasi sebagai sebuah proses menuju tujuan yang diinginkan. Proses evaluasi harus dilakukan dengan jujur. Bukan sekedar perilaku, namun juga sistemnya. BerAKHLAK harus menjadi nilai yang dianut, bukan sekedar panduan yang tertulis rapi dalam naskah dan bergaung besar di kampanye.
Jika nilai indeks naik namun keluhan masyarakat masih naik juga, artinya ada yang salah, bahwa nilai hanya sebatas kepatuhan administratif, tidak bertumbuh dalam diri aparatur. Keberhasilan tidak diukur dari banyaknya media yang dibuat, tapi seberapa berdampaknya bagi masyarakat. Indeks hanya sekedar nilai, tapi kepuasan pada masyarakat adalah tujuannya.