Financial Well-Being Generasi Sandwich di Pangkalpinang, Peran Literasi, Perilaku, Teknologi, dan Fragilitas K
Ilustrasi--
Financial well being menjadi indikator penting untuk menilai sejauh mana generasi sandwich mampu bertahan secara finansial di tengah beban ganda yang dihadapinya. Oleh karena itu, pemahaman mendalam terkait financial well being menjadi kunci dalam mengidentifikasi strategi apa saja yang dapat meningkatkan ketahanan ekonomi kelompok ini.
Literasi keuangan berperan penting dalam membentuk kemampuan individu memahami informasi finansial, merencanakan keuangan, dan membuat keputusan yang rasional (Judijanto et al., 2025) . Individu yang memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi cenderung lebih mampu mengelola pendapatan, menghindari utang konsumtif, dan mengatur tabungan untuk masa depan, sehingga berdampak positif terhadap financial well being (Wahyuni et al., 2024).
Namun, literasi saja tidak cukup tanpa perilaku keuangan yang bijak. Perilaku seperti menyusun anggaran, disiplin menabung, dan menahan dorongan konsumsi impulsif terbukti menjadi penentu langsung dari kestabilan keuangan seseorang (Muslim et al., 2025)
Kemajuan teknologi finansial (fintech) membuka peluang baru bagi generasi sandwich untuk mengakses layanan keuangan secara lebih mudah dan efisien, mulai dari pengelolaan keuangan digital hingga akses pinjaman berbasis aplikasi (Anisah et al., 2024). Namun demikian, tingginya paparan terhadap layanan keuangan digital juga meningkatkan risiko literasi digital yang rendah dan perilaku keuangan impulsif (Mujahidin, 2020).
Di sisi lain, tingkat fragilitas keuangan ditandai oleh kurangnya cadangan dana darurat, utang akibat perilaku konsumtif, dan ketergantungan terhadap pendapatan tunggal menjadi penghambat utama dalam mencapai financial well being yang berkelanjutan (Koto, 2024). Oleh karena itu, keempat faktor ini saling terkait dan perlu dianalisis secara bersamaan dalam konteks generasi sandwich di Pangkalpinang.
Mengukur Kesejahteraan Finansial Generasi Sandwich
Berdasarakan penelitian yang telah kami lakukan terhadap 150 responden berusia 25–44 tahun di Pangkalpinang muncul sejumlah temuan menarik tentang kesejahteraan finansial masyarakat. Sebagian besar responden adalah perempuan 60,7% dengan pendapatan di bawah Rp3 juta per bulan dan memiliki tanggungan keluarga antara satu hingga tiga orang.
Melalui analisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM), diketahui bahwa literasi keuangan dan perilaku keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan finansial (financial well-being). Sebaliknya, fragilitas keuangan atau kondisi rentan terhadap guncangan ekonomi memiliki dampak negatif yang signifikan, sementara penggunaan teknologi keuangan tidak menunjukkan pengaruh berarti. T