Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Agama Cinta Jalan Baru Keberagamaan yang Menyejukkan

JB Kleden.-Dok Pribadi-

Kurikulum Cinta menjadi strategi preventif yang elegan. Ia tidak melawan kebencian dengan kebencian, tetapi dengan kelembutan dan keteladanan. Pendidikan agama tidak lagi sekadar dogma, melainkan proses pembentukan karakter yang utuh dan penuh kasih.

 

Visi besar di balik gagasan ini adalah menangkal fanatisme dan radikalisme dengan pendekatan kasih, bukan kekerasan. Menjadikan kerukunan sebagai etos kolektif bangsa, bukan sekadar formalitas dan Menyelaraskan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam melalui pendekatan ekoteologis

 

Gagasan ini sejalan dengan misi Kementerian Agama untuk memperkuat moderasi beragama dan membangun harmoni sosial menuju Indonesia Emas 2045. Dalam konteks ini, Agama Cinta dan Kurikulum Cinta bukan hanya gagasan spiritual, tetapi juga strategi kebangsaan yang menjawab kebutuhan zaman.

 

Moderasi beragama merupakan prinsip fundamental dalam membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis. Ketika nilai-nilai cinta menjadi inti dari keberagamaan, maka toleransi, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan menjadi keniscayaan.

 

Kita dapat mengatakan, moderasi beragama adalah jalan tengah yang menjaga keseimbangan, dan agama cinta adalah cahaya yang menuntunnya. Bersama-sama, keduanya membentuk keberagamaan yang tidak hanya toleran, tetapi juga penuh kasih, yang memeluk perbedaan sebagai anugerah, bukan ancaman.

 

Agar gagasan ini tidak berhenti sebagai wacana, diperlukan komitmen nyata dari seluruh jajaran Kementerian Agama, baik di pusat maupun daerah. Beberapa langkah strategis yang telah dirancang seperti integrasi kurikulum cinta ke dalam pendidikan formal dan non formal, revitalisasi rumah ibadah sebagai ruang kemanusiaan dan menyediakan ruang dialog antarumat beragama yang ramah dan terbuka, perlu segera diimplementasikan.

 

Dengan langkah-langkah tersebut, Kementerian Agama dapat menjadi pelopor transformasi spiritual yang tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga menyentuh hati. Karena cinta, pada akhirnya, adalah bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan dan menyembuhkan luka-luka sosial yang tak terlihat.

 

Indonesia bersatu berdaulat, rakyat Sejahtera dan maju bukan hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan politiknya, tetapi oleh kedalaman cinta yang hidup dalam jiwa rakyatnya. Jika agama cinta bergema dalam kurikulum cinta, membumi di ruang-ruang pendidikan, rumah ibadah, kebijakan publik, dan hati setiap insan, janji kemerdekaan bukan hanya menjadi sesuatu yang layak untuk terus diperjuangan, tetapi juga sesuatu yang indah untuk dinikmati dan dirayakan. (sumber:kemenag.go.id)*

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan