Selamat Menunaikan Ibadah, Semoga Meraih Haji Mabrur
Muhammad Nasril-Dok Pribadi-
Bagi jemaah lanjut usia atau yang memiliki keterbatasan fisik, tidak perlu memaksakan diri mengejar amalan sunah yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Umrah berulang-ulang sebaiknya tidak dilakukan jika kemampuan fisik tidak memungkinkan. Lebih baik mempersiapkan tenaga untuk puncak ibadah haji.
Momen Ibadah haji ini sejatinya menjadi ajang latihan spiritual untuk memperkuat hubungan vertikal (hablum minallah) dan horizontal (hablum minannas). Haji adalah proses pembinaan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kesempatan untuk membersihkan hati dari kesombongan, ego, dan sifat-sifat tercela, lalu menggantinya dengan akhlak mulia dan kepedulian sosial.
Karena itu, penting bagi para jemaah untuk memahami dan menyiapkan bekal manasik secara utuh, bukan hanya teknis, tapi juga makna dan nilai-nilai filosofisnya. Jika semua tahapannya dipahami secara mendalam, ibadah ini akan melahirkan pribadi yang lebih taat, peduli, dan penuh kebaikan.
Haji bukan hanya soal menunaikan syarat dan rukun, tapi juga merenungi makna di balik tiap amalan. Misalnya, tawaf mengajarkan kesetaraan dan ketundukan, di mana semua orang melebur dalam gerakan yang sama tanpa memandang status sosial, warna kulit, atau jabatan.
Mengharap Haji Mabrur
Setiap jemaah tentu mendambakan haji yang mabrur, yakni haji yang diterima oleh Allah dan membuahkan kebaikan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa balasan bagi haji yang mabrur adalah surga.
Dalam panduan manasik haji Kementerian Agama, haji mabrur adalah haji yang dijalankan sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dengan memenuhi syarat, rukun, dan adab, serta menjauhi segala larangan, dilakukan secara ikhlas semata-mata untuk mengharap ridha Allah. Rasulullah SAW bersabda:
"Siapa saja yang berhaji, lalu tidak berkata keji dan tidak berbuat dosa, maka ia akan pulang seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim).