Pengiyok
Syabaharza.-Dok Pribadi-
“Tolong! Ia sudah membunuh suamiku,” teriaknya.
Menerima tuduhan seperti itu, bapak si pengiyok sangat kaget. Niatnya ingin menolong sekarang malah dijadikan tersangka. Belum sempat ia membela diri, tiba-tiba warga yang datang mulai main hakim sendiri. Satu persatu datang memukul dengan tangan kosong dan benda yang ada di sekitarnya.
“Demi Allah saya bukan pembunuh”
Terdengar samar-samar ucapan pembelaan dari dalam kerumunan. Namun warga yang sudah tersulut emosi tidak memdulikannya.
“Sasar pengiyok! Ayo hajar terus jangan pedulikan!” Tiba-tiba warga menghentikan pukulan-pukulan mereka.
“Cukup, Ia sudah tidak bergerak lagi.”
Seorang warga mengomandoi untuk berhenti. Sesaat kemudian terlihat dua sosok manusia tergelatak tidak bernafas lagi.
Satu memang sudah meninggal karena tusukan benda tajam, satu lagi tewas karena dikeroyok. Si pengiyok yang saat itu masih sangat kecil sangat terpukul melihat sang bapak meninggal secara tragis dikeroyok oleh massa. Pepatah menolong anjing terjepit tampaknya sedang berlaku terhadap bapaknya. Niatnya tadi ingin menolong wanita yang menjadi korban, ternyata malah terkena fitnah.
Pasca kejadian itu si pengiyok yang sekarang tinggal sendirian itu mengalami depresi yang luar biasa, apalagi seminggu setelah itu sang ibu menyusul sang ayah menghadap pencipta. Peristiwa itu sungguh sangat membuatnya merasa tidak ingin hidup lagi. Semenjak itulah ia mengasingkan diri di gubuk reot. Ia tidak pernah lagi merawat penampilannya. Yang pasti dalam hatinya ia yakin bahwa bapaknya bukanlah seorang pengiyok seperti yang dilabelkan warga. ia tahu persis bapaknya orang jujur dan ikhlas dalam setiap aktivitasnya.