Pengiyok
Syabaharza.-Dok Pribadi-
Apakah ia sudah bosan menemui orang yang dibenci seperti dirinya? Apakah mungkin orang itu mulai melupakannya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja menyerangnya, bagaikan rudal Iran yang meluncur ke Amerika Serikat. Namun pertanyaan-pertanyaan itu tidak kunjung ada jawabannya.
Akhirnya ia pasrah bahwa hari itu tidak ada lagi teman yang bisa berbagi cerita dengannya. Ia pasrah mungkin ke depannya ia akan menghabiskan waktu sebatang kara lagi. Bahkan ia harus rela jika nanti ia menghembuskan nafas terakhirnya seorang diri tanpa diketahui orang, bahkan mungkin nanti jasadnya tidak akan ditemukan orang karena habis dimakan pengurai di gubuk reotnya itu.
***
Sudah hampir satu pekan lelaki yang dibenci warga itu tidak bercengkrama dengan teman yang selalu mengunjunginya. Tiba-tiba rasa rindu menyeruak dari dalam hatinya. Ia rindu dengan kedekatan mereka berceloteh tentang masa lalu. Ia teringat ketika keluarganya masih lengkap, warga desa masih menghormati kedua orang tuanya.
Saat itu masa-masa indah dalam hidupnya. Ia bebas bermain dengan teman sebayanya. Banyak yang ingin bermain bersamanya. Ia dan teman-temannya sering bermain di sungai desa yang airnya sangat jernih.
Sampai suatu ketika peristiwa naas itu menghantam keluarganya. Ia masih ingat betul malam itu ia dan bapaknya sedang berjalan pulang dari warung untuk membeli gula dan kopi. Namun tiba-tiba mereka mendengar sebuah teriakan wanita minta tolong dari sebuah rumah.
Demi mendengar teriakan histeris itu, bapaknya langsung spontan menuju rumah itu dan mendobrak pintu. Karena terbuat dari tripleks pintu itu pun terbuka hanya dengan sekali tendangan. Begitu pintu terbuka, mereka sangat terkejut menyaksikan seorang lelaki bertelanjang dada sedang menghunus pisau yang dilumuri darah segar, sementara di lantai tergelatak sesosok tubuh lelaki dengan luka menganga dan di sisi lain terlihat seorang perempuan yang hanya mengenakan kain menutupi tubuhnya. Melihat kedatangan tamu tak diundang teriakan perempuan itu bertambah keras.
Dalam hitungan menit tiba-tiba warga sudah bergerombol datang ke tempat kejadian perkara. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, lelaki yang memegang pisau langsung memberikan pisaunya kepada bapak si pengiyok, mendapatkan situasi seperti itu, sang bapak pun refleks memegang pisau yang berlumuran darah tersebut. Dan dalam detik berikutnya perempuan yang tadi menjerit histeris tiba-tiba mengubah perkataannya.