Proyek Sang Videografer
Syabaharza.-Dok Pribadi-
“Minggu depan proyeknya akan dilaksanakan, bu!”
Sang ibu hanya manggut-manggut saja, sementara sang ayah mengacungkan jari jempol tangannya dari kejauhan.
Aswal terus sumringah sambil membayangkan keberhasilannya mengubah wajah desanya dengan proyek yang akan dikelolanya.
*****
Enam bulan kemudian suatu pemandangan yang kontras terlihat di rumah Aswal. Rumah itu Sekarang tampak sunyi, tidak ada lagi kegembiraan, tidak ada percakapan atau mungkin perdebatan antara anak dan orang tuanya. Tidak ada lagi omelan seorang ibu terhadap anaknya.
Jika dulu di meja kerja Aswal dipenuhi oleh tumpukan kertas yang cukup mengganggu pemandangan. Sekarang meja itu tampak rapi, tumpukan kertas tersusun dengan rapi bahkan presisi.
Sekarang tidak ada pelukan sang anak kepada orang tuanya, tidak ada segelas kopi yang nangkring di meja kerja Aswal. Semenjak Aswal dinyatakan bersalah terhadap proyek yang digarapnya semua terasa tidak ada kehidupan di rumah itu. Aswal sudah dinyatakan bersalah oleh pihak berwajib, karena dianggap sudah mempermainkan anggaran dalam proyek yang diajukannya. Ia dianggap sudah membuat anggaran yang melebihi dari sewajarnya. Sehingga ia dianggap melakukan korupsi.
Sakit rasa hati orang tua Aswal, di saat anaknya dinyatakan korupsi waktu itu. Yang lebih menyakitkan lagi karena pihak berwajib menganggap ide yang ditawarkan oleh anaknya itu dianggap nol sehingga tidak layak untuk dihargai. Sebab itulah proposal yang awalnya sudah disetujui oleh pihak desa kembali dianulir. Yang parahnya Aswal sudah membelanjakan seluruh dana yang dicairkan untuk menyukseskan proyeknya.