Proyek Sang Videografer
Syabaharza.-Dok Pribadi-
Semua perlengkapan proposal sudah rampung serratus persen. Hanya yang belum selesai pada bagian anggaran. Aswal masih ragu dalam menentukan pagu anggaran proyeknya. Ada ketakutan tersendiri dalam diri Aswal jika menentukan anggaran terlalu besar atau terlalu kecil. Mengingat memang tidak ada SSH untuk pekerjaan yang akan diajukannya itu. Jika ia membuat biaya terlalu kecil ditakutkan ia mengalami kerugian, tapi jika ia menetapkan biaya terlalu tinggu takut nanti ia diprotes, karena dituduh menggelembungkan anggaran.
Sekian lama ia menatap layar laptopnya. Beberapa kali juga rencana anggaran biaya proyeknya diketik kemudian dihapusnya kembali. Sesekali keningnya tampak berkerut, bertanda ia memang serius memikirkan proyeknya. Segelas kopi hitam setia menemaninya menggarap proposal itu. Entah sudah berapa gelas kopi yang dihabiskannya. Kedua orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan perjuangan sang anak untuk membuktikan bahwa proyeknya itu memang penting.
“Istirahat dulu, Wal”
Kedua orang tuanya terkadang mengingatkan, namun hanya jawaban singkat tanpa tindaklanjut yang didapatkan orang tuanya.
“Ya,” ujar Aswal pendek.
Jawaban itu selalu dilontarkan Aswal tanpa beranjak dari tempat kerjanya. Aswal bahkan menjawab tanpa menoleh kepada orang tuanya.
Memang proposal proyeknya itu sudah membuat dirinya lupa banyak hal. Semenjak menggarap proposal itu badannya tidak terurus. Dalam setiap hari ia hanya mandi satu kali, itu pun jika ia ingat bahwa belum mandi atau ketika bau badannya memang sudah menyengat hidung. Pakaian yang dikenakan pun seala kadarnya, bahkan lebih sering ia tidak memakai baju dan hanya mengenakan celana kolor saja.