Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Perihal Seekor Anak Kucing Nelangsa yang Telantar di Sudut Pasar Koba

Alfian N. Budiarto-Dok Pribadi-

 

Kamu tentu tidak pernah lupa mengenai desas-desus yang dulu kerap berembus ke telingamu, perihal kamu yang bukan anak kandung ayah dan ibumu. Kata orang-orang, kamu adalah bayi yang dipungut ayah dan ibumu dari salah satu sudut pasar. Mereka menemukanmu sedang menangis kedinginan di dalam kardus bekas mi instan di pagi buta sepulang berbelanja sayuran. 

 

Awalnya, kamu tidak ingin percaya dengan desas-desus yang beredar itu. Kamu pikir orang-orang hanya hanya suka bercanda dan mengolok-olok lantaran kulitmu yang jauh lebih gelap dibanding milik ayah dan ibu. Juga rambutmu yang ikal sendirian. Namun, ketika kamu iseng bertanya kepada ayah dan ibumu, mereka justru menjawab dengan air mata. Dan bagimu itu sudah cukup menjadi sebuah jawaban.

 

“Sampai kapan pun, buat Pak kek Mak, ka tu anak kandung kamik .”

Mendengar itu, kamu tidak lagi berani bertanya-tanya. Lebih tepatnya tidak ingin semakin terluka. Semuanya sudah cukup jelas. Kamu memanglah bukan anak kandung mereka. Barangkali cacat di kaki kirimu yang membuat orang tua kandungmu tega membuangmu. 

 

Bisa jadi karena faktor ekonomi, atau alasan-alasan lainnya. Namun yang jelas, sejak itu, kasih sayangmu pada pasangan paruh baya itu semakin menjadi-jadi. Pun sejak detik itu pula, kamu tidak pernah lagi ingin tahu siapa ayah kandung atau perempuan yang sudah melahirkanmu dari rahimnya. Curahan cinta yang kamu dapatkan dari orang tua angkat yang telah rela membesarkanmu itu justru lebih kental ketimbang ikatan pertalian darah.

 

Kamu masih terpaku memandangi anak kucing pincang yang nelangsa di hadapanmu. Ia mengeong pada sesiapa yang melintas di dekatnya. Namun, orang-orang tidak peduli. Mereka melintas begitu saja. Walau begitu, tanpa pikir panjang, kamu angkat tubuh ringkihnya, membalutnya menggunakan jaket yang kamu kenakan, lalu membawanya pulang. 

 

Kamu tidak lagi peduli pada tujuan utama mencari ikan seminyak. Kamu juga tidak lagi memikirkan cara meramu lempah kuning yang nikmat. Saat ini kamu hanya ingin memberikan tempat yang layak pada si anak kucing malang, yang kini terlelap di dalam dekapanmu yang tengah mengendarai sepeda motor. Sampai-sampai kamu juga mengabaikan istrimu yang selama ini tidak suka kucing.

 

Di sepeda motor yang melaju, sepasang matamu tiba-tiba saja berkabut. Basah. Kamu jadi teringat kenangan manis bersama ayahmu dulu. Saat kamu yang masih bocah merengek ingin diajak jalan-jalan menggunakan sepeda motor. Baru melaju beberapa ratus meter di jalanan, kamu justru lebih dulu terlelap dibelai angin yang berembus. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan