Momen pun dilanjutkan dengan proses bersalaman antara seluruh anggota keluarga dan sang anak. Dan dalam hitungan detik sang anak sudah berjalan dengan cepat menuju asramanya. Tanpa ada kata-kata dan tanpa menoleh ke arah anggota keluarganya, hanya sebuah lambaian tangan mungil dengan posisi masih membelakangi keluarganya yang ditinggalkan sang anak.
*****
Angin berhembus pelan menerpa wajah keluarga-keluarga yang sedang menyaksikan anak-anak kesayangan mereka berjalan dengan berbagai perasaan ke rumah kedua mereka. Angin yang bertepatan musim kemarau itu serasa belum mampu menutupi rasa hangat karena adanya perpisahan.
Perpisahan yang mungkin saja sebentar tapi tetap akan terasa begitu lama bagi sebagian keluarga. Perpisahan yang akan menguras emosi, rindu dan penuh pengorbanan.
Sudah hampir separuh jalan wajah anak itu tidak berpaling ke arah keluarga yang mengantarnya. Harapan keluarga yang ingin melihat ekspresi wajah sang anak belum juga terkabulkan. Mereka tidak peduli ekspresi apa yang didapat yang terpenting adalah sang anak mau memalingkan wajahnya.
Entah itu ekspresi kesedihan, kegalauan, atau mungkin kebahagiaan. Keluarga itu tidak ingin pulang hanya melihat punggung sang anak yang sedang berjuang tersebut. Namun tampaknya harapan itu tidak akan terwujud, karena sampai anak itu tiba di asrama tempatnya menempuh pendidikan keadaan tidak berubah. Hanya tubuh bagian belakang yang menyapa keluarganya.
Dengan sangat terpaksa keluarga yang mengantar itupun memutuskan untuk pulang membawa berbagai perasaan dan beribu pertanyaan. Mungkin pertanyaan anggota keluarga itu sama. Mengapa sang anak bungsu itu bersikap seperti itu.
Apakah ada yang disembunyikannya? Atau ada sesuatu yang belum sempat diutarakannya? Pertanyaan-pertanyaan itu mendadak bermunculan. Tapi keluarga itu tetap berkhusnuzzhon bahwa sanga anak sengaja melakukan itu agar keluarganya tidak melihat kesedihannya tatkala berpisah, mungkin jika ia menampakkan kesedihannya di depan keluarga takut nanti akan menjadi beban dan mempengaruhi pikiran orang tuanya.
Dan keluarga itu memiliki keyakinan bahwa sang anak akan sukses menuntut ilmu tentunya diiringi dengan doa-doa mereka juga.
Perilaku sang anak akan menjadi misteri bagi keluarga yang mengantarnya, tetapi juga akan menjadi sebuah penyemangat untuk keluarganya agar tetap memberikan dukungan moril dan spirituil. Wajah yang tak berpaling itu akan menjadi suatu pembahasan yang menarik ketika waktu bertemu tiba, dan tentunya hal itu lah yang akan dinantikan dan dirindukan oleh keluarganya. Mungkin sang anak sudah mempersiapkan momen spesial itu agar anggota keluarganya selalu merindukannya.**
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com