Wajah yang tak Berpaling

Wajah yang tak Berpaling

Jumat 17 Jul 2026 - 18:07 WIB
Reporter : Admin
Editor : Budi Rahmad

Perasaan syahdu, sedih, tidak tega itu mencapai puncaknya tatkala lonceng tanda perpisahan dibunyikan. Dentangan lonceng itu seolah mengatakan bahwa batas kebersamaan antara orang tua dan anak sudah selesai. Bunyi lonceng itu seolah berbicara kepada orang tua untuk segera mengikhlaskan anak-anaknya untuk memulai perjuangan. 

Suara lonceng itu seolah sebuah tanda pengusiran orang tua untuk segera meninggalkan lembaga pendidikan itu dan membiarkan sang buah hati kesayangan menjadi pribadi mandiri jauh dari belaian kasih sayang orang tuanya.

Pemandangan-pemandangan yang menguras emosi dan air mata saat itu begitu mudah dijumpai. 

Di bawah-bawah pohon, di sudut-sudut kelas, di halaman terbuka keadaannya sama. Semua dalam posisi yang sama, berpelukan antara anak dan keluarga yang mengantarnya. Tidak ada kata-kata yang terlontar, hanya tubuh yang bergerak pelan mengikuti irama yang keluar dari bibir mereka, irama tangisan yang menyayat hati. Mereka tidak lagi memedulikan kondisi sekelilingnya, yang terpenting bagi mereka adalah menumpahkan seluruh perasaan saat itu. 

*****

Tampak di sudut sebuah gedung yang cukup megah, sebuah keluarga sedang bercengkerama untuk terakhir kalinya sebelum sang anak masuk ke asrama. Suasana sedih semakin menguasai, karena sang anak tidak mampu lagi berkata-kata.

“Kami izin pulang dulu ya nak,” kata seorang Ibu pada anaknya.

Dalam waktu yang lama tidak terdengar lagi kata-kata dari mulut keluarga itu. Hanya suara sesenggukkan samar-samar terdengar dan perlahan hilang dihembus angin bulan kemarau.

Sang anak yang sebenarnya sudah siap lahir batin untuk tinggal jauh dari orang tuanya, hari itu menjadi rapuh juga. Ia tidak bisa menahan perasaan dalam dirinya, sehingga tanpa bisa dibendung, air mata turun dengan deras membasahi pipinya. Jilbab warna putih yang dikenakan sang anak mendadak sudah basah. 

Hal itu sebenarnya bisa dimaklumi, mengingat sang anak yang baru saja lulus sekolah dasar itu sekarang harus berjuang sendiri. Hari itu ia harus mampu mengatur dirinya sendiri. Apalagi statusnya adalah anak bungsu yang selalu dimanja dan disayang, karena kebiasaan terkadang anak bungsu itu selalu diberi keistimewaan oleh keluarganya. 

Walaupun orang tuanya sudah jauh-jauh mempersiapkan mentalnya dengan cara memberikan wawasan tentang kemandirian ketika masih di rumah, seperti memasak makanan sendiri, mencuci baju sendiri, berusaha menyelesaikan masalah sendiri dan berbagai kegiatan mandiri lainnya, tetapi tetap saja ketika waktu berpisah tiba rasa sedih itu akhirnya datang. Di balik perasaan itu tampak sang anak tetap berusaha tegar.

“Kamu harus kuat dan sabar ya nak,” kata sang Ibu. 

Suara sang ibu yang sedari tadi memeluk anaknya terdengar bergetar. Mungkin sang ibu berusaha menahan perasaannya. Suara sang ibu yang tidak terlalu kuat tapi masih terdengar oleh anggota keluarga yang lain itu turut mempengaruhi suasana menjelang perpisahan tersebut. Dan akhirnya seluruh anggota keluarga yang mengantar itupun tidak mampu lagi menahan tangisnya.

“Ya…sudah, sekarang kamu ke asrama, kumpul dengan teman-temanmu,” ujarnya pelan.

Yang terdengar masih suara ibunya, sementara anggota keluarga yang lain tetap tidak mampu berkata-kata lagi. 

Perintah sang ibu tidak dibalas dengan sepatah kata pun dari sang anak, hanya anggukan kecil saja yang keluar. 

Tags :
Kategori :

Terkait