Rokok Ayah

Rokok Ayah

Jumat 06 Feb 2026 - 20:27 WIB
Reporter : Admin
Editor : Budi Rahmad

 

 Nah kan lebih segar dan ganteng,  kataku saat itu.

 

Ayah hanya tersenyum. Juga bunda dengan jempolnya. Adikku juga ikut mengacungkan jempolnya. 

 

Meski sudah ada perubahan, aku belum begitu gembira. Karena keinginanku ayah berhenti merokok. Aku yakin Ayah akan berhenti merokok. Tapi pelan-pelan. Buktinya, sejak peristiwa kubuang rokok ayah dan sering kukirim artikel serta poster bahaya rokok, ayah sudah mulai jarang terlihat merokok jika di rumah. 

 

Bukan hanya itu, di teras aku sudah memasang papan peringatan dilarang merokok. Papan itu aku beli di toko buku saat pulang sekolah. Tulisan warnah merah lengkap dengan gampar rokok yang dicoret. 

 

Aku juga melakukan aksi menghindar. Setiap ayah mendekat aku menolak dengan alasan bau rokok. 

 

"Bau rokok!" kataku ketika ayah baru saja pulang dan mendekatiku kala membaca koran di teras. 

 

Aku segera beranjak masuk ke dalam rumah. Ayah diam. kulirik ayah hanya termenung. Ada butiran air mata yang mengalir di pipinya. Aku merasa sangat bersalah. 

 

"Maafkan anakmu ini, Ayah," kataku dalam hati. 

Tags :
Kategori :

Terkait