Rokok Ayah

Rokok Ayah

Jumat 06 Feb 2026 - 20:27 WIB
Reporter : Admin
Editor : Budi Rahmad

 

"Berhentilah merokok. Apa tak ingin melihat anak-anakmu wisuda, menikah, dan punya cucu." 

 

Itu bukan sekali dua kali aku dengar. Bahkan, bunda terkadang sampai mengomel panjang. Jika bunda sudang mengomel tentang rokok, maka ayah hanya diam. Ia tidak menjawab sedikitpun kata-kata dari bunda. Ia hanya akan terlihat mengurangi merokok di rumah. Tidak tahu jika di luar, kutebak ayah pasti masih merokok.

 

Aku bukan tidak pernah mengingatkan ayah bahwa merokok itu tidak baik. Itu kudapat dari pelajaran Biologi. Sewaktu di kelas satu SMP. Juga Disampaikan oleh guru mata pelajara Agama Islam di sekolahku. Guru IPS juga mengatakan hal yang sama. 

 

Adikku, yang usianya 8 tahun, juga pernah mengingatkan ayah tentang rokok. Kata adikku rokok itu haram. Itu yang ia dapat dari guru ngajinya di masjid dekat rumah.

 

"Ayah bisa berhenti saat bulan puasa," kata Adikku saat mereka berdua sedang mengobrol di teras.

 

Meski ayah merokok hanya di teras, aku tetap tidak suka. Meski ayah akan mematikan rokoknya saat aku atau adikku maupun bunda mendekat, aku tetap tidak suka. 

 

Meski ayah perokok berat, ayah tak pernah merokok di dalam rumah. Jug saat kami ada di dalam mobil. Ayah juga tak merokok saat kami jalan-jalan ke luar. Ayah juga tak pernah kulihat merokok saat menunggu untuk menjemputku aku di sekolah. Ayah tak merokok saat ada kami atau salah satu di antara kami.

 

Tidak seperti beberapa orang tua lain yang kulihat tetap merokok di atas kendaraan saat bersama keluarganya. Atau pernah kulihat seorang bapak merokok saat menggendong anaknya. Aku benci sekali melihatnya. 

Tags :
Kategori :

Terkait