Aku tahu ayah mendengarku. Bukankah cinta seorang ayah ada pada anak perempuan melebihi apapun. Buktinya, dulu ayah langsung ke pangkas rambut saat kuminta ia memotong rambutnya yang gondrong.
Itu peristiwa enam tahun lalu. Saat itu rambut ayah sudah melebihi bahunya. Bunda sudah berapa kali meminta ayah untuk potong rambut. Namun dijawab dengan iya dan iya saja.
Aku tak suka melihat ayah dengan rambut gondrong. Jelak menurutku. Karena itu aku minta ayah untuk segera memotongnya.
Ayah ngak usah antar jemput lagi ke sekolah kalau ayah tidak mau potong rambut. Biar jalan kaki saja, kataku sore itu.
Ayah terdiam sejenak. Lalu beranjak ke teras. Duduk dan melanjutkan membaca buku.
Nanti malam Ayah potong, katanya.
Aku langsung memeluk Ayah. Sedangkan adikku yang kupastikan belum mengerti, juga menghampiri kami dan ikut memeluk. Melihat adikku memeluk, bunda juga menghampiri ikut berpelukan.
Benar sekali, malamnya ayah pulang dengan kepala plontos. Istilahnya agus (agak gundul sedikit). Ayah lebih rapi.