Cerpen Rusmin Sopian: Bukan Perempuan Biasa

Cerpen Rusmin Sopian: Bukan Perempuan Biasa

Minggu 20 Apr 2025 - 15:30 WIB
Editor : Budi Rahmad

"Ada apa Pak Bos Juragan Ikan ke rumah," dirinya membatin.

Usai menyadarkan sepedanya di pohon yang menghiasi halaman rumahnya,  Fatimah dengan hati yang berbalut debaran jantung tak beraturan  segera menemui pak bos juragan ikan yang tampak asyik menghisap rokok merek terkenal.

BACA JUGA:Cerpen Belia Zalfa Nawangwulan, SDN 37 Pangkalpinang: Penunjok dalem Gelep

"Ada apa Pak Bos Juragan?," tanya Fatimah degan suara terbata-bata.

"Aku ingin melamarmu," kata Pak Bos Juragan ikan tanpa basa-basi. Seolah-olah yakin dengan ucapannya.

Fatimah tediam. Suara lanjutan yang keluar dari mulut pak bos juragan ikan kembali membuat jantungnya hampir copot. jantungnya bergerak tak beraturan.

"Kalau kamu menikah denganku, kamu tidak perlu bekerja menjajakan ikan keliling kampung lagi dengan sepeda. Kamu tinggal di rumah besar dan  ongkang-ongkang kaki saja di rumah sebagai nyonya besar. Semua tersedia," rayu Pak Bos Juragan Ikan." Mohon maaf. Aku belum punya keinginan untuk berumah tangga lagi," jawab Fatimah dengan nada datar.

BACA JUGA:Cerpen Karim Abudzar Papinda, SDIT Qurani Adh Dhuhaa Pangkalpinang: Nganggung Kek Kawan-kawan

"Dan masa depan anakmu terjamin hingga sarjana," lanjut Pak Bos Juragan Ikan.

Fatimah menggelengkan kepalanya sebagai tanda menolak.

"Menjadi istrimu berarti sama saja aku mengakui bahwa selama ini omongan semua orang kampung aku berselingkuh itu benar," ucap Fatimah dengan mantap.

Pak bos juragan ikan hanya menelan ludah. Kekecewaan melanda sekujur tubuhnya. Ia perlahan meninggalkan teras rumah fatimah dengan sejuta kekecewaan. 

Dirinya sama sekali tak menyangka Fatimah, penjual ikan keliling itu menolak lamarannya. Padahal semenjak dari rumah, lelaki beristri tiga itu berkeyakinan ajakannya akan diterima Fatimah.

"Ternyata, Fatimah bukan wanita biasa," desisnya sembari bergegas masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Fatimah dengan dibaluti jiwa yang teramat kecewa.

BACA JUGA:Cerpen Dwi Asiva, SMPN 2 Tempilang: Semanget Perang Ketupat de Atei Urang Mudek

Dari kejauhan mata Fatimah memandang kepergian pak bos juragan ikan dengan mata yang berbinar. 

Kategori :