Menulis untuk Warisan Peradaban
Rusmin Sopian.-Dok Pribadi-
Beberapa waktu lalu, saat matahari mulai menaiki kaki langit, penulis tiba di warung langganan yang menjual makanan khas , seperti pentiaw, tekwan dan empek-empek.
Saat menunggu pesanan datang, seorang emak-emak berujar.
"Datuk sering muncul di berita,' ujarnya.
Penulis tersenyum.
"Oh...Itu bukan berita. Ini opini. Pandangan dan gagasan seseorang terhadap suatu persoalan. Kalau berita ditulis wartawan media yang bersangkutan," jelas penulis.
Sebelumnya, penulis mendengar kabar sedih dari seorang penulis muda Toboali yang biasa menulis opini diberbagai media lokal maupun nasional, mengabarkan bahwa seorang temannya yang aktif pula menulis opini di berbagai media massa memilih vakum menulis dikarenakan komentar miring yang diperolehnya.
Sebagai warga negara yang hobi menulis, penulis tentunya sangat sedih mendengar kabar itu. Beberapa saat, penulis tertegun. Bahkan merenung. Kopi di gelas mulai terasa hambar. Ini berita sangat tidak menggembirakan.
Mengutip narasi Pramoedya menulis adalah bekerja untuk keabadian.
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah." Tulis Pramoedya Ananta Toer
Sementara Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak".
Melalui tulisan kita sebagai penulis dapat menyampaikan gagasan, ide bahkan kritik untuk dibaca publik dan pemegang kekuasaan.
Seperti kara As-Syahid Sayid Quthb satu peluru hanya mampu menembus satu kepala. Namun satu tulisan mampu menembus ribuan kepala bahkan jutaan kepala.
Melalui tulisan kita bisa berbagi pengalaman kepada pembaca sehingga bermanfaat kepada publik. Dan itu akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak.
Menulis adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan, apalagi jika dilakukan dengan sepenuh hati. Ada adagium agar “menulis dengan hati”, sehingga tulisan yang dihasilkan sangat baik dan memberikan manfaat bagi publik pembaca.