"Fatimah selingkuh?," tanya seorang nelayan lainnya dengan nada penuh muatan keterkejutan.
"Nggak usah pura-pura tidak tahu. Semua orang Kampung sudah mengetahui tingkah busuk Fatimah," jawab nelayan itu.
"Aku yakin orang sekampung kita tidak percaya kalau si Fatimah selingkuh. Masa sih hanya gara-gara Pak Bos juragan ikan ngasih uang ala kadarnya kepada anaknya lewat Fatimah, dipikir selingkuh. Dunia memang mau kiamat. Perbuatan baik selalu diasumsikan untuk mengharapkan sesuatu," balas seorang nelayan lainnya.
"Saya pikir suami mana pun akan merasa disepelekan kalau istrinya selalu menerima uang dari orang lain. walaupun uang itu bukan untuk dirinya,' sambung nelayan yang lain.
BACA JUGA:CERPEN RUSMIN SOPIAN: Perempuan Penari
Sementara dari kejauhan terlihat Fatimah berjalan ke arah pantai. Bau amis ikan mulai tercium di udara bebas pantai.
Lenggang-lenggoknya membuat semua mata nelayan di pantai memandangnya tanpa berkedip sama sekali. Sementara siulan godaan dari para nelayan terus berhamburan di udara pantai dan menusuk kalbu.
Fatimah terus melangkah ke pantai untuk mengambil ikan segar yang akan dijualnya dengan bersepeda keliling Komplek perumahan yang sudah banyak berdiri tegap di sekitar kampungnya.
Matahari sudah di atas kepala. Sudah waktunya, Fatimah kembali ke rumah. Alhamdulillah, hari ini ikan yang dibawanya terjual habis.
"Terima kasih, ya Allah untuk rezeki hari ini," desisnya.
Dengan sepedanya, Fatimah bergegas menuju rumahnya. Anak semata wayangnya segera akan pulang dari rumah pengetahuan. Dia harus segera menyiapkan makan siang untuk anaknya.
BACA JUGA:Cerpen Amira Ilmia Zahira, SDN 1 Mendo Barat: MENUGAL
Perempuan penjual ikan keliling itu hampir terjerembab saat memasuki halaman rumahnya.
Bagaimana tidak, di halaman rumahnya terparkir sebuah mobil mewah milik pak bos juragan ikan yang amat terkenal di kampungnya.
Di teras rumahnya terlihat seorang lelaki perlente duduk di kursi yang terbuat dari papan bekas sisa para nelayan membuat perahunya. Jantungnya seakan-akan mau copot dari tangkainya.
Sejuta pertanyaan terus mendesak dalam pikirannya.